Thursday, 14 February 2019

Kisah Rakyat Kepulauan yang Terlupakan "Keris Sempena Riau"

Seri cerita ini diambil dari buku Pulau Paku yang disusun oleh Tusiran Suseno dan Drs. Amiruddin A.A. Diterbitkan oleh Percetakan Basma Grafika, Yogyakarta. Cerita dari buku ini hanyalah sebagai sarana informasi bagi para pembaca yang membutuhkan dan bukan untuk dibajak atau disebarluaskan. Untuk mendukung pengarang serta penyusun, harap membeli buku ini di toko buku terdekat atau meminjamnya di perpustakaan.

Sumber : https://www.thepatriots.asia/menggores-darah-kesetiaan-di-muka-ketidakadilan/




Sekapur Sirih


Sungguh tak terperikan betapa banyaknya cerita-cerita rakyat yang ada di Kota Tanjungpinang dan daerah Kepulauan Riau pada umumnya. Dan ini tentunya merupakan khasanah, kekayaan yang tiada ternilai.

Cerita-cerita tersebut ada yang telah populer, namun tak kurang banyak cerita yang hanya segelintir masyarakat, bahkan hanya sebahagian orang-orang tua saja yang tahu.Jangankan cerita-cerita yang belum banyak diketahui khalayak, sedangkan cerita yang sudah dianggap populer suatu ketika juga akan dilupakan orang, jika tidak dilakukan usaha sosialisasi secara terus menerus. Apalagi jika cerita-cerita tersebut kehilangan komunitasnya, atau sebaliknya.

Oleh karenanya, berangkat dari kesadaran dan tanggung jawab moral, kami mencoba untuk mengangkat kembali cerita-cerita rakyat tersebut. Sebab, bagaimanapun banyaknya cerita-cerita tersebut, jika tidak segera dilakukan usaha untuk menginfentarisir sekaligus menerbitkannya, dikhawatirkan suatu ketika ia akan punah, hilang bersama komunitas masyarakat pendukungnya.
Sudah terlalu lama sebenarnya terbesit keinginan untuk membukukan cerita-cerita tersebut, namau oleh karena suatu hal, keinginan itu hanya tersimpan didalam hati saja.

Sumber : https://budayajawa.id/filosofi-makna-bagian-bagian-ubo-rampe-ritual-jawa-sekapur-sirih/


Banyak hal yang menyebabkan terbantunya keinginan tersebut, antara lain yang paling mendasar adalah berkaitan dengan masalah pendanaan.Padahal, sebelumnya kami telah melakukan invetarisir dan penelitian ke berbagai pelosok di hampir seluruh daerah Kepulauan Riau. Kemudian pada tahun 1995 kembali bersama Bapak Goris Kraf mengadakan penelitian dan pemetaan bahasa dan cerita rakyat di Kepulauan Riau.

Segala kepenatan dan biaya yang cukup besar, yang telah dihabiskan, rasanya sirna begitu saja, seiring dengan diterbitkannya hasil jerih payah kami tersebut.Semoga saja buku Seri Cerita Rakyat Kepulauan Riau, yang rencananya akan dibukukan hingga tujuh seri (insya Allah) akan mempunyai manfaat yang besar, terutamanya kepada anak-anak kita.

Kemudiannya, kami akui bahwa belum semua dapat tergali, masih banyak lagi kisah-kisah dan cerita yang tersimpan. Semoga disuatu waktu nanti juga dapat terangkat. Selain daripada itu kami menyadari dalam menyusun buku ini masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangannya, dan sidang pembaca yang arif, cerdik pandai yang akan menyempurnakannya. Selain itu sangatlah diharapkan tunjuk ajar maupun saran dari berbagai kalangan, sehingga nantinya akan mencapai kepada hal yang lebih baik.

Dalam menyelenggarakan kitab ini, beberapa pihak telah terlibat secara langsung maupun tidak langsung Maka daripada itu, pada kesempatan ini disampaikan ucapan setinggi-tinggi penghargaan dan terimakasih kepada pihak yang telah memeberika bantuan dan kerjasamanya sehinggalah kitab ini boleh dicetak dan diterbitkan.

Wassalam.


Tanjungpinang,2005
Penyusun,

---/////\\\\\---

Elu-Eluan

Tanjung Pinang, Kepulauan Riau pada umumnya, tidak saja kaya dengan berbagai kandungan alamnya, tetapi juga memiliki suatu daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lain.
Kepulauan Riau wilayahnya terdiri dari pulau-pulau yang berjumlah 1062 pulau besar dan kecil. Beberapa buah pulau yang relatif besar seperti Pulau Bintan, Pulau Karimun, Pulau Singkep, Pulau Lingga, Pulau Lingga, Pulau Natuna, Pulau Batam, Pulau Anambas, dan gugusan pulau-pulau lain seperti Pulau Serasan, Tambelan, Rempang dan Galang serta pulau-pulau lain yang relatif lebih kecil, baik yang berpenduduk maupun pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni.

Selain dari itu, pada masa kerajaan Melayu-Riau, di Hulu Sungai Riau, Penyengat dan Daik-Lingga pernah menjadi Pusat Kerajaan (Johor-Riau). Malah sebelumnya di Bentan Bukit Batu peranh menjadi Pusat Kerajaan Melayu.Dengan kondisi alam atau keadaan geografis, pusat kerajaan dan keberadaan pulau-pulau tersebut, ternyata menyimpan khasanah kesenian yang begitu banyak sekali. Di antaranya adalah kesenian sastra.

Dari sekian banyak simpanan bentuk-bentuk kesenian, khususnya sastra, seperti Pantun, Syair, Gurindam juga ada Legenda, Dongeng, Cerita Rakyat dan lain-lain.Hal yang demikian itu tentulah merupakan kekayaan khasanah kesusastraan kita. Tetapi jika kekayaan itu hanya menjadi sebutan di bibir yang manis, tiadalah pula ada artinya.


Sumber : https://liandamarta.com/2017/05/19/ada-apa-di-tanjungpinang/







Melainkan harus dilakukan suatu usaha dan ikhtiar untuk mengangkat batang terendam tersebut ke permukaan, hingga generasi muda bisa mengetahui dan memahami, betapa sesungguhnya snagat banyak permata budaya bergemerlapan di negeri Segantang Lada ini.

Itu sebabnya usaha dari saudara Tusiran Suseno dan Drs. Amiruddin untuk mengumpulkan cerita-cerita rakyat yang ada di daerah ini, sungguh merupakan suatu usaha yang patut dibanggakan dan sangat baik sekali.Apatah lagi, cerita-cerita tersebut syarat dengan muatan pendidikan, moral/etika, kepahlawanan, sosial yang dapat dijadikan panutan dalam menghadapi masa yang akan datang bagi anak-anak. Sekaligus dapat dijadikan sebagai tameng atau penangkis budaya asing yang bersifat negatif dan tidak sesuai bagi budaya kita.

Jika ditinjau dari bentuknya, cerita-cerita yang ada di dalam buku ini, tidak keseluruhannya murni sebagai cerita rakyat. Justru ada yang berbentuk dongeng, lagende(legenda).Namun terlepas dari bentuk karya sastra tersebut, usaha yang dilakukan untuk mengangkat cerita-cerita tersebut merupakan suatu usaha yang positif, tidak saja bagi menambah wawasan dan perbendaharaan kesusastaraan di daerah ini, tetapi sekaligus melestarikan karya-karya sastra lisan yang ada didaerah ini.


Semoga usaha dari penerbitan buku ini, akan mendapat ridho Allah SWT.
Amin.


Penerbit

---/////\\\\\---


1.Keris Sempena Riau

Pada zaman dahulu, tersebutlah sebuah tempat atau sebuah pulau untuk orang-orang mengadu ilmu kependekaran.Oleh karena itu pulau tersebut dijadikan tempat orang mengadu kesaktian atau ilmu kependekaran, konon kemudian disebut dengan nama Pulau Galang.Tidak diketahui dengan pasti kenapa ia disebut Pulau Galang. Kemungkinan kata galang itu sendiri berarti mengadu kekuatan, mengadu kekuatan, mengadu kesaktian, mengadu ilmu kependekaran. Biasa juga disebut dengan menggalang atau mengadu kehandalan.

Mungkin juga berkaitan dengan kata gelanggang, yang mempunyai arti ruang atau lapangan, tempat orang mengadu kekuatan ataupun tempat pertandingan olahraga.Demikianlah halnya Pulau Galang pada waktu itu dijadikan tempat menggalang seseorang yang ingin bermain senjata atau mengadu ilmu kependekaran, hingga akhirnya pulau itu dijadikan tempat berkumpulnya para pendekar yang handal.


Sumber : https://asyraafahmadi.com/in/pengetahuan/spesialisasi/persenjataan/senjata-tradisional/keris-riau/

Tersebutlah seorang pendekar yang handal, seorang pendekar yang perkasa, gagah berani dan sangat pandai bermain senjata atau bersilat sehingga ia diberi gelar dengan nama Pendekar Galang.
Oleh karena kesaktian dan kehandalannya Pendekar Galang dipercayakan oleh Baginda Raja untuk mengurus semua kelengkapan persenjataan kerajaan.

Panglima Galang selain handal bermain senjata, ia juga seorang yang kebal dari senjata tajam.Konon, tidak sedikit orang yang telah beradu senjata atau mengadu ilmu kesaktian dengan Pendekar Galang. Dari berbagai tempat pernah datang dan mencoba kesaktiannya.

Tetapi lebih banyak yang kalah atau tewasSebagian besar dari pendekar-pendekar yang pernah bertanding dengan Panglima Galang akhirnya berguru kepadanya. Maka semakin hari semakin banyaklah pengikutnya.

Pernah suatu ketika salah seorang pendekar yang pernah dikalahkan Panglima Galang dan menjadi muridnya bertanya,

"Wahai Panglima Galang yang handal, kalau tidak menjadi kesalah,  bolehkah hamba bertanya?"
"Ya, silahkan tuan hamba bertanya. Tentang apakah itu?"
"Panglima, Tuan Hamba seorang Panglima yang handal. Tetapi hamba tengok, tuan hamba hidupnya sangat sederhana. Tidakkah Tuan Hamba ingin hidup seperti Panglima-Panglima Kerajaan yang lain? Yang hidup bergelimang harta kekayaan?" Tanya salah seorang pendekar yang pernah dikalahkan Panglima Galang yang kemudian menjadi murid.

Mendengar pertanyaan itu, Panglima Galang agak terkejut. Tak disangkanya kalau pertanyaan salah seorang muridnya itu menyinggung soal kehidupannya yang sangat sederhana.
"Kenapa itu yang Tuan Hamba tanyakan?" Balas Panglima Galang bertanya.
"Sebab hamba tengok, Tuan Hamba hidup tidak seperti layaknyaseorang Panglima Kerajaan. Padahal tugas Tuan Hamba sangat berat, tidak saja menjaga sempadan di Pulau Galang dari berbagai serangan musuh yang hendak masuk ke kerajaan, tapi Tuan Hamba juga dipercayakan untuk mengatur dan menjaga semua peralatan perang kerajaan!" Ujar salah seorang muridnya.

Untuk sejenak Panglima Galng termenung. Barulah srjurus kemudian beliau berkata dengan perlahan sambil menghela nafas, "Bagi hamba kepercayaan dan tugas yang diberikan oleh Baginda Raja, adalah anugerah dan kurnia yang tak terhingga. Hamba sudah merasa cukup puas dan bahagia jika dapat melaksanakan semua titah Baginda Raja dengan baik. Hamba tak pernah terpikir untuk hidup bergelimang dengan harta kekayaan. Hamba sudah cukup bahagiasekarang ini!" Ujar Panglima Galang dengan tenang.

Demikianlah kehidupan Panglima Galang, yang tak pernah berpikiran yang tidak-tidak. Baginya mengabdi dan berbakti kepada kerajaan dan demi rakyat adalah lebih penting dan mulya.
Syahdan, pada suatu ketika bertanya pula seorang muridnya yang lain,"Wahai Panglima Galang yang perkasa, bolehkah hamba bertanya?"

"Tiada pantangan dan larangan untuk orang bertanya, ya saudaraku," sahut Panglima Galang.
"Sudah banyak orang-orang, para pendekar sakti dari tempat lain yang Tuan hamba kalahkan. Ilmu Tuan hamba sakti, badan kebal dari berbagai senjata dan keris Tuan hamba sakti tiada duanya. Dapatkah Tuan hamba dipisahkan dengan keris sakti yang selama ini selalu terselip di pinggang?" Tanya salah seorang muridnya.

Untuk sejenak Panglima Galang tak dapat menjawab pertanyaan muridnya. Barulah selang beberapa waktu kemudian Panglima Galang menjawab sambil tersenyum, "Keris adalah senjata yang sangat penting bagi seorang pendekar. Boleh dikatakan sebagai penjaga keselamatan dirinya. Walaupun sebenarnya kesaktian seorang pendekar tidak selamanya ditentukan oleh sebilah keris. Tetapi jika keris yang kita miliki jatuh ke tangan orang lain, berarti kita sudah kalah separuh."
Demikianlah hal dan keadaannya, sehari-harinya dengan tekun murid-murid Pendekar Galang belajar memperdalam ilmu kependekaran.

Pendekar Galang pun selalu menasihatkan kepada murid-muridnya, bahwa ilmu yang dimiliki bukan lah untuk dipergunakan dengan semena-mena serta menindas yang lemah demi kepentingan diri sendiri. Justru sebaliknya, seorang pendekar sejati adalah membela yang lemah, menegakkan keadilan dan berbakti bagi negeri tercinta.Tidak mencari musuh, tapi kalau musuh datang, tidak pula lari ketakutan:

Seperti kata pantun :

Suluh petang tepi perigi,
mencari tuba untuk menjarah.
Musuh datang tidak dicari,
musuh tiba pantang menyerah

Pergi ke Ngenang naik perahu,
bawa kapur singgah di Galang.
Kalah dan menang belum tahu,
takkan undur tengah gelanggang

Syahdan pada suatu hari, muncullah seorang Ketua Lanun yang selama ini sangat ditakuti. Lanun yang ganas dan bengis bernama Daeng Tawang.Daeng Tawang bersama anak buahnya sudah lama mendengar khabar tentang kehandalan Panglima Galang, maka ingin juga ia mencoba kesaktian ilmu Pendekar Galang.

Mendaratlah Daeng Tawang bersama anak buahnya ke Pulau Galang. Penduduk di Pulau Galang merasa cemas dengan kedatangan Ketua Lanun itu. Sedangkan murid-murid dan pengikut Pendekar Galang telah bersiap-siap, sebab mereka menyangka kedatangan kedatangan Daeng Tawang hendak menyamun tempat mereka.

Maka berdirilah Daeng Tawang di tengah gelanggang dengan sombongnya sambil berkata dengan lantang,"Heii... kamu semuanya, mana yang bernama Pendekar Galang? Aku, Daeng Tawang datang hendak mencabar!"

Sementara itu di belakangnya, seluruh anak buahnya bersorak-sorak.
Tak lama kemudian datanglah Pendekar Galang, beliau berjalan dengan langkah yang tenang dan wajahnya berseri mengulum senyum. Di belakangnya ikut pula para pengikut dan muridnya mengiring jalan.

Akhirnya berhadapanlah kedua orang yang akan bertentang itu. Pendekar Galang berdiri dengan tenang, sedangkan Daeng Tawang berdiri dengan membusungkan dadanya.

"Kau yang bernama Pendekar Galang?!"
Tanya Daeang Tawang dengan sombong.
"Ya, hambalah Pendekar Galang. Siapakah Tuan Hamba?" Jawab Pendekar Galang sambil bertanya.
"Ha ha ha ha ha . . . siapa yang tidak tahu denganku? Ha ha ha . . . inilah Ketua Lanun Daeng Tawang yang berkuasa di perairan Siantan, Tarempa, Timbalan sampai ke Laut Cina ... ha ha ha ha ...!" Ujar Daeng Tawang dengan sombong.
"Oh, kiranya Tuan hamba di Daeng Tawang ketua lanun! Apa hajat tujuan tuan hamba datang kemari?" Tanya Panglima Galang berbasa-basi.
"Cis! Jangan engkau kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu! Hamba datang kemari ingin mengalahkan Pendekar Galang!" Jawab Daeng Tawang.
"Oh, begitukah hajat Tuan Hamba datang kemari?

Jika orang pergi ke Daik,
pergi ke Daik terkena ribut.
Jika datang dengan baik,
baik pula hamba menyambut.

Tapi kalau pergi ke Mepar,
biarlah hamba pergi ke Resun.
Kalau Tuan datang mencabar,
takkan undur jurus disusun!"

Ujar Panglima Galang dengan berpantun.
"Cis!

Pergi ke Pekan membawa bekal,
berbaris-baris buah berangan.
Kalau Tuan sungguh handal,
Cabutlah keris, mula serangan!

Ciiiiaaat!" Teriak Daeng Tawang sambil menyerang dengan kerisnya.Panglima Galang menyambut serangan Daeng Tawang dengan tenang, tapi dengan mudah pula dapat dielakkan.Maka tak lama kemudian terjadilah perkelahian yang amat seru. Masing-masing menunjukkan kemampuan dan kehandalan bermain keris. Debu di sekitaran berterbangan. Orang-orang yang menonton menjauh dari gelanggang.

Perkelahian itu begitu serunya, tetapi kehandalan Panglima Galang meamang sulit untuk dikalahkan. Akhirnya dengan suatu sepakan yang cepat dan kencang mendarat di dada Daeng Tawang hingga jatuh terjerembab serta sulit untuk bangun kembali.

Melihat kejadian itu, orang-orang bersorak dan sebagian murid-murid Pendekar Galang berteriak-teriak!
"Bunuh! Bunuh saja ketua lanun itu! Bunuh Ketua Lanun!"
Tetapi dengan kebesaran jiwa, Panglima Galang bukan membunuh lawannya, walaupun itu seorang Ketua Lanun. Disarungkan kembali kerisnya yang sakti itu, lalu Pendekar Galang menghampiri Daeng Tawang. Di ulurkan tanggannya untuk menarik Daeng Tawang.
Tapi dasar orang jahat, melihat kebaikan dan kelengahan Pendekar Galang, secepat kilat Daeng Tawang menepis tangan Pendekar Galang, lalu bangkit dan menikam Pendekar Galang yang bermaksud menolongnya itu.

Pendekar Galang tak sempat mengelak, maka....
Keris Daeng Tawang menusuk dada Pendekar Galang.
"Pletaaak!" Terdengar suara barang yang patah.

Ternyata bukan dada Pendekar Galang yang tertembus, melainkan keris Daeng Tawang yang patah. Sungguh kebal dan sakti Pendekar Galang. Melihat kecurangan Daeng Tawang, orang-orang dan murid-murid Pendekar Galang sangat marah. Pendekar Galang bermaksud baik, sebaliknya Ketua Lanun itu membalasnya dengan kecurangan.
Maka dengan serentak murid-murid Pendekar Galang menyerbu Ketua Lanun itu untuk dibunuh.
Mujurlah Pendekar Galang cepat menahan dengan mengangkat tangannya!

"Tunggu! Sabar, sabar semuanya...!"
Serentak pula orang-orang itu mengikuti perintah Pendekar Galang!
"Wahai Daeng Tawang, dengan kecuranganmu ini, sudah sepatutnya Tuan hamba di bunuh!
Tapi Hamba masih memberikan kesempatan kepada Tuan hamba untuk bertobat. Jadilah orang baik-baik, berhentilah jadi lanun!" Ujar Pendekar Galang dengan lemah lembut.

Sebaliknya Daeng Tawang bukan meminta maaf, melainkan dengan kesombongannya ia berdiri, lalu berkata, "Hei Pendekar Galang, hai ini aku kecundang . Tapi masih ada kesempatan untuk menebus kekalahan ini! Tunggulah pembalasan Daeng Tawang!" Kata Daeng Tawang sambil memeprhatikan semua orang yang ada di gelanggang itu, kemudian mengajak anak buahnya berlalu.

Murid-murid Pendekar Galang ingin mengejar para lanun itu tapi ditahan oleh Pendekar Galang.
"Biarkanlah mereka pergi, mudah-mudahan mereka akan bertaubat dan menjadi orang baik-baik!" Kata Pendekar Galang.
"Orang jahat seperti itu tidak akan bertaubat, Pendekar!" Kata salah seorang murid Pendekar Galang.
"Tuan hamba dengar sendiri, Ketua Lanun ingin membalas dendam. Mereka tidak akan bertaubat, Pendekar!" Kata salah seorang yang lain.
"Sabarlah ... jika Tuhan menghendaki mereka akan sadar ..." Ujar Pendekar Galang dengan tenang sambil menyeka keringatnya.

Kekhawatiran dan kecemasan orang-orang serta murid-murid Pendekar Galang memang benar. Ketua Lanun beserta anak buahnya bukan pula sadar dan bertaubat. Sebaliknya sedang mencari jalan untuk menghancurkan Pendekar Galang.

Daeng Tawang menyadari bahwa dengan kemampuannya tidak akan dapat mengalahkan Pendekar Galang. Apalagi orang-orang kampung, murid-murid atau pengikutnya banyak sekali, seakan sepasukan prajurit.

Sesungguhnya ia sangat malu dan sakit hati karena kekalahannya itu.Maka, di sepanjang pelayarannya setelah meninggalkan Pulau Galang. Ketua Lanun itu menyebar fitnah!
Setiap berjumpa dengan orang-orang ataupun saudagar yang sedang berlayar di lautan di rompaknya harta benda orang-orang itu. Tetapi orangnya tidak dibunuh seperti yang dilakukan sebelumnya.
Orang-orang itu di lepaskan sambil berkata, bahwa yang merompak mereka adalah orang-orangnya Pendekara Galang.

Kononnya, mereka disuruh oleh Pendekar Galang merompak mengumpulkan harta benda, yang kemudian akan dijadikan modal untuk menyusun kekuatan. Saat tiba masanya nanti akan menyerang kerajaan, ingin mendurhaka kepada Baginda Raja!

Lama kelamaan fitnah yang disebar Daeng Tawang itu sampai juga ke Istana. Banyak orang yang mempercayai fitnah yang disebar. Mendengar khabar bahwa Pendekar Galang sedang menyusun kekuatan untuk menyerang Istana, Baginda Raja sangat murka, maka dititahkan kepada para Panglima yang ada untuk menyiapkan pasukan dan mengirim mereka dengan membawa titah raja.
Titah Raja itu berisikan, bahwa Pendekar Galang karena telah berniat mendurhaka kepada Raja maka harus di hukum bunuh!

Alangkah terkejutnya Pendekar Galang setelah utusan kerajaan datang dengan membawa sepasukan hulubalang serta prajurit. Pendekar Galang mencoba untuk menceritakan semua duduk perkara, tetapi utusan kerajaan yang membawa titah raja, tidak mau percaya. Apalagi memang disekitarnya yang dilihatnya sungguh banyak pengikut-pengikut Pendekar Galang.

Semakin kuatlah dugaan mereka bahwa Pendekar Galang memang sedang menyusun kekuatan.
Akhirnya Pendekar Galang menyerah dan menerima hukuman dari Baginda Raja. "Wahai utusan Baginda Raja, hamba telah menceritakan semua perkara sebenarnya, tetapi tuan hamba semua tidak mau percaya. Sesungguhnyalah tak pernah terniat di hati hamba untuk mendurhaka kepada raja. Tetapi kalau hamba harus menerima hukuman bunuh, hamba menerima hukuman itu, tetapi dengan satu syarat!" Ujar Pendekar Galang.

"Apa syaratnya?"
"Untuk membunuh hamba masih ada kesempatan. Hamba tak akan melarikan diri. Tapi sebelum dibunuh izinkanlah hamba menyerahkan keris pusaka hamba ini kepada Baginda Raja. Bawalah hamba kehadapan Baginda Raja!"

Para utusan itu saling pandang sesama sendiri. Mereka masih khawatir, walaupun Pendekar Galang telah menyerah. Siapa tahu kelak di hadapan raja, Pendekar Galang mengamuk? Melihat para utusan itu ragu-ragu, maka berkatalah Pendekar Galang, "Wahai para utusan kerajaan, percayalah kepada hamba. Kalau hamba mau, tak satupun dari senjata kamu semua yang akan dapat membunuhku. Tapi Hamba tidak akan melakukannya. Kalau kamu semua tidak percayalah ikatlah hamba kuat-kuat supaya hamba tidak bisa melawan!" demikian kata Pendekar Galang.

Akhirnya para utusan itu setuju untuk membawa Pendekar Galang ke hadapan Baginda Raja. Tetapi sebelum Pendekar Galang pergi meninggalkan Pulau Galang menuju Istana, Pendekar Galang berpesan kepada semua orang dan murid-muridnya untuk tetap setia berbakti kepada kerajaan. Setelah berpesan maka pergilah Pendekar Galang.

Sungguh begitu heboh, ketika rombongan telah sampai ke Istana. Orang-orang bercerita tentang Pendekar Galang yang akan menyerahkan diri dan siap untuk dihukum. "Ampun beribu ampun Tuanku, sembah patik harap diampun. Sesungguhnya patik telah difitnah orang. Selama ini patik tak pernah terniat dan punya pikiran untuk mendurhaka kepada Tuanku dan kerajaan ini. Tetapi kalau Tuanku tidak percaya, patik bersedia untuk menerima hukuman dari Tuanku!" Sembah Pendekar Galang dihadapan Baginda Raja.

Lalu diceritakan semuanya perkara yang sebenarnya, bahwa ini adalah fitnah dari orang yang dengki, dari orang yang pernah dikalahkan. Syukurlah, ahkhirnya Baginda Raja dapat mempercayai cerita Pendekar Galang. Pendekar Galang diampuni dan ikatannya di lepas.

"Ampun beribu ampun, Tuanku...terimalah sembah patik. Mengingat selama ini keris pusaka patik ini telah bertahun-tahun bersama patik , dan keris ini sangat sakti, maka akan patik sembahkan kehdapan Tuanku..." ujar Pendekar Galang sambil mengeluarkan keris sakti yang terbungkus kain kuning.
Keris itu diterima oleh Baginda Raja, diperhatikan dengan cermat keris itu. Hulu keris yang berkepala burung menambah wibawa keris sakti itu.

Sesaat kemudian Baginda pun bertitah, "Wahai sekaliannya dengarlah beta berucap. Pada hari ini seorang Pendekar yang gagah perkasa yang menjadi sandaran kerajaan telah menghadiahkan Beta sebuah keris pusaka yang selama ini sudahpun menjaga dirinya. Hadiah ini adalah pertanda kesetiaan Pendekar Galang kepada kerajaan. Maka dengan itu keris ini Beta namakan KERIS SEMPENA RIAU!" Demikianlah titah Baginda Raja.

Tiada lama kemudian barulah Pendekar Galang mengaturkan sembah. Beliau berkata karena sudah tua, ingin melepaskan jabatannya, dan ia ingin bertapa. Menurutnya telah banyak Panglima yang muda-muda muncul dan handal yang bisa menjadi sandaran kerajaan kelak.

Pada awalnya, niat mengundurkan diri Pendekar Galang di tolak oleh Baginda Raja. Tetapi karena kuatnya keinginannya Pendekar Galang, Baginda pun tak bisa menahan lagi.Maka setelah mengaturkan sembah, Pendekar Galang meninggalkan istana. Dan sejak peristiwa itu, tak siapapun tahu kemana perginya Pendekar Galang.

Pesan :

- Hanya seorang yang setia, jujur dan rela berkorban demi negara patut disebut sebagai lelaki sejati.
- Jangan pernah menyebar fitnah. Karena fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
- Akuilah kekurangan dan sebuah kekalahan dengan jiwa yang besar.
- Jangan teralalu cepat mengambil keputusan atau menimpakan kesalahan kepada seseorang jika belum terdapat bukti-bukti yang nyata.
- Berbuat baik berpada-pada, buat jahat jangan sekali

Nara sumber :
1. Bapak Syarif, tokoh masyarakat, di Mantang.
2. Orang-orang tua di daeran Galang.

No comments:

Post a Comment

LATIHAN SOAL CAT CPNS dan P3K TES INTELEGENSI UMUM BAGIAN VERBAL

Assalammualaikum wr.wb Selamat pagi teman-teman. Pada kesempatan kali ini masharist.com akan membagikan  LATIHAN SOAL CAT CPNS dan P3K TE...