Saturday, 16 February 2019

Mengejutkan ! Rahasia & Asal Muasal Tempat di Kepulauan Riau Bag.1

Kepulauan Riau merupakan salah satu provinsi yang memiliki wilayah yang luas. Dimana luas wilayah laut lebih besar dibandingkan wilayah daratan. Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari berbagai kabupaten dan kota. Serta berbagai pulau-pulau. Disetiap daerah memiliki ceritanya sendiri tentang asal muasalnya. Berikut akan dibahas mengenai asal usul atau asal muasal berbagai nama tempat di Provinsi Kepulauan Riau:

PETA PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Untuk lebih memudahkan para pembaca, maka asal usul atau asal muasal nama tempat tersebut akan dibagi berdasarkan wilayah kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kepulauan Riau:

Kota Batam

Sejarah, Asal Usul atau Asal Muasal Legenda Batu Ampar 

Batu Ampar merupakan salah satu nama daerah di Pulau Batam. Letak Batu Ampar berada di sisi bagian Selatan dari Pulau Batam. Batu Ampar memiliki arti atau makna batu yang terhampar.

Pada zaman dahulu hiduplah seorang lelaki kumal dan juga ceking. Ia hidup di wilayah Kepulauan Riau. Ia memiliki perawakan yang kecil. Apabila melihat sepintas seakan-akan lengannya seperti mudah patah. Hal yang sama pun dapat dilihat pada kakinya. Seakan-akan kakinya sedang terkena penyakit lumpuh. Pada saat masih muda orang-orang memanggilnya si Badang.

Hari demi hari berlalu, tak terasa si Badang telah tumbuh menjadi seorang pria yang sederhana, jujur dan perkasa. Ia juga suka  berkelana. Dari pulau ke pulau, dari satu wilayah ke wilayah lain ia berkelana. Mulai dari sekitaran Kepulauan Riau, Bintan, Daik, Pulau Buluh hingga ke Tumasik. Tumasik saat ini dikenal dengan nama Singapura.

Singkat cerita, di Pulau Tumasik ada orang kuat yang berasal dari India. Ia menghadap Tuan Putri, sang penguasa Tumasik. Orang India tersebut menantang Tuan Putri untuk beradu kekuatan. Ia menyerahkan seluruh hartanya kepada Tuan Putri dengan maksud apabila ia kalah Tuan Putri boleh mengambilnya. Apabila ia menang Tuan Putri haruslah menyerahkan Pulau Tumasik kepada dirinya. Untuk berhadapan dengan orang India tersebut dalam adu kekuatan, Tuan Putri menunjuk si Badang untuk mewakili negeri Tumasik.

Hari yang dinanti pun telah tiba. Adu kekuatan dilakukan di Pulau Sentosa. Pulau Sentosa bertempat di sekitar Pantai Timur Tumasik. Adu kekuatan pun dimulai. Pada giliran pertama adalah giliran orang kuat dari India. Ia menunjukkan kekuatannya dengan mengangkat sebuah batu besar. Batu besar tersebut memilki berat hampir setengah ton. Orang kuat India tersebut dapat mengangkat batu tersebut hingga atas kepalanya. Hal tersebut membuat gusar , gugup hati sang Tuan Putri. Ia pun mulai berfikir kemungkinan terburuk yang akan dialami negerinya apabila si Badang kalah dalam pertandingan kekuatan tersebut.

Akhirnya tiba waktunya giliran si Badang untuk unjuk kekuatan. Sebelum mengangkat batu besar yang tadi dapat diangkat oleh lawannya, sejenak ia menghadapkan dirinya ke arah Gunung Ledang. Setelah itu ia lalu menghadap ke arah Selat Singapura. Selanjutnya, ia mengangkat batu yang tadi diangkat oleh lawannya dengan enteng, ia lambung-lambungkan batu besar tersebut dengan tapak kanannya, kemudian ia lakukan hal yang sama dengan tapak tangan kirinya.

Beberapa waktu kemudian, si Badang mengambil ancang-ancang dan seketika ia lemparkan batu besar yang berwarna hita kemerah-merahan itu kelaut. Batu itu segera melesap ke udara hingga akhirnya hilang dari pandangan orang yang menyaksikan. Dengan hal tersebut, jadilah si Badang sebagai pemenang mengalahkan orang kuat yang berasal dari India tersebut. Tuan Putri girang bukan kepalang, kemungkinan buruk yang ia pikirkan tidak akan terjadi.

Pelabuhan Batu Ampar,
Sumber : http://batam.tribunnews.com/2017/01/25/bp-batam-cari-investor-perluasan-pelabuhan-batuampar-lautnya-akan-dikeruk-dan-pantainya-direklamasi

Setelah itu, Tuan Putri bertanya kepada si Badang, " Di manakah batu lemparan itu terjatuh ? ". Si Badang menjawab, " Patik pikir batu itu jatuh bersepai di kawasan yang berjarak sekitar 10 mil laut dari sini pada sebuah daratan, tuanku." Kata bersepai yang diucapkan si Badang memiliki arti pecah berserakan.

Mendengar jawaban dari si Badang, Tuan Putri merasa tidak puas. Ia pun mengirim utusan, untuk menemukan dimana tempat batu yang dilempar si Badang jatuh. Utusan itu pergi bersama dengan si Badang. Mereka tiba di bagian Utara sebuah pulau (kini dikenal dengan nama Pulau Batam). Ternyata kepingan-kepingan batu yang dilempar oleh si Badang itu, tersusun bagus nan indah sehingga membentuk hamparaan batu. Utusan tersebut menyebutnya Batu Ampar (baca: batu ampa). Semenjak saat itulah, kawasan tersebut lama kelamaan dikenal dengan sebutan Batu Ampar hingga kini.

Sejarah, Asal Usul atau Asal Muasal Legenda Sungai Jodoh

Sungai Jodoh merupakan nama suatu tempat di Pulau Batam. Sama seperti daerah lain, Sungai Jodoh juga memiliki asal usul atau sejarah dari mana nama itu berasal.

Pada zaman dahulu kala, di suatu desa di pedalaman Pulau Batam, hiduplah seorang gadis yatim piatu. Gadis ini bernama Mah Bongsu. Mah Bongsu merupakan pembantu rumah tangga dari seorang wanita. Wanita itu bernama Mak Piah. Mak Piah juga memiliki seorang anak gadis yang bernama Siti Mayang. Suatu ketika Mak Piah pergi ke sebuah sungai. Tujuannya pergi ke sungai adalah untuk mencuci pakaian. Tak berapa lama, ia melihat seekor ular mendekat. Ia pun secara spontan berterik,"Ular..!! .Mendekatnya ular tersebut membuat Mah Bongsu panik dan ketakutan. Tetapi yang mengherankan Mah Bongsu ular tersebut tidak ganas. Ia berenang kesana kemari menunjukkan luka di punggungnya. Karena merasa iba dan kasihan kepada ular tersebut, Mah Bongsu memberanikan diri untuk mengambil ular tersebut dan membawanya pulang kerumah untuk diobati.

Sungai Jodoh di masa sekarang, sumber : Google Maps oleh Pandu Wardhana

Sesampainya dirumah dirawatnyalah ular tersebut. Setelah dirawat oleh Mah Bongsu, ular tersebut menjadi sehat dan bertambah besar pula badannya. Sebagaimana ular kebanyakan, ular Mah Bongsu juga mengalami pergantian kulit. Kulit luarnya mengelupas sedikit demi sedikit. Kulit ular yang telah terkelupas itu dikumpulkan oleh Mah Bongsu. Kemudian ia bakar. Hal ajaib pun terjadi. Saat Mah Bongsu membakar kulit dari ular tersebut, maka munculah asap yang besar. Asap ini memiliki keajaiban. Apabila asap yang muncul mengarah ke Negeri Singapura, maka tumpukan uang dan emas berlian datang secara tiba-tiba. Lain halnya apabila asapnya mengarah ke Negeri Jepang, maka alat kebutuhan sehari-hari buatan Jepang yang datang. Dan apabila mengarah ke Kota Bandar Lampung, maka yang datang adalah berkodi-kodi kain tapis Lampung.

Tanpa terasa waktu terus berjalan. Dalam tempo yang singkat, sekitar dua hingga tiga Bulan Mah Bongsu telah menjadi orang yang kaya raya. Bahkan Mah Bongsu bisa menyaingi kekayaan harta Mak Piah majikannya. Kayanya Mah Bongsu menjadi buah bibir di kampungnya. Orang-orang pun bertanya-tanya darimana asal harta Mah Bongsu. Tak terkecuali Mak Piah. "Pasti Mah Bongsu memelihara tuyul," ungkap Mak Piah. " Bukan memelihara tuyul ! Tetapi ia telah mencuri hartaku !" timpal Pak Buntal. Pak Buntal adalah suami dari Mak Piah. Akhirnya para warga kampung sepakat untuk menyelidiki dari mana asal harta Mah Bongsu berasal.

Singkat cerita, beberapa hari telah berlalu akan tetapi hajat para warga kampung tidak tercapai. Bukanlah mudah ternyata untuk mengetahui dari mana harta Mah Bongsu berasal. Seorang warga kampung bernama Mak Ungkai akhirnya berkata, "Yang penting sekarang ini, kita tidak dirugikan. ". Mak Ungkai dan para warga kampung mengucapkan terima kasih kepada Mah Bongsu, karena sering dibantu olehnya. Banyak kebaikan yang dilakukan oleh Mah Bongsu. Warga kampung memanggilnya "Mah Bongsu seorang yang dermawati. Panggilan tersebut memanglah cocok untuknya. Mah Bongsu sering membantu tetangganya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak hanya para tetangganya, ia juga membantu para fakir miskin, anak terlantar, orang sakit serta orang-orang yang membutuhkan uluran tangannya.

Hal serupa tak dirasakan oleh Mak Piah dan Siti Mayang anaknya. Ia dan putrinya malah merasa tersaingai oleh Mah Bongsu. Karena penasaran, setiap malam mereka pergi ke rumah Mah Bongsu untuk mengintip serta menyelidiki apa rahasia Mah Bongsu. Suatu malam, Mak Piah melihat ular dirumah Mah Bongsu. Ia bergumam dalam hati, " Wah, ada ular sebesar betis?". Setelah itu dia melihat hal yang ajaib. Ia pun bergumam lagi, "Dari kulitnya yang terkelupas dan dibakar bisa mendatangkan harta karun?". "Hmmm, kalau begitu aku juga akan mencari ular sebesar itu." . Mak Piah bergegas pergi kehutan, mencari ular seperti ular Mah Bongsu. Tak berapa lama ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Yaitu seekor ular berbisa. " Dari ular berbisa ini pasti akan mendatangkan harta karun lebih banyak daripada yang didapat oleh Mah Bongsu," pikir Mak Piah. Ular itu pun dibawanya pulang kerumah. Sesampainya dirumah, ular itu ditidurkan bersama Siti Mayang. "Saya takut! Ular melilit dan menggigitku!" teriak Siti Mayang ketakutan. "Anakku jangan takut. Bertahanlah, ular ini akan mendatangkan harta karun.", ucap Mak Piah menenangkan Siti Mayang.

Sementara itu, luka yang dimiliki oleh ular Mah Bongsu sudah sembuh total. Mah Bongsu semakin menyayangi ular tersebut. Pada saat Mah Bongsu hendak menghidangkan makanan dan minuman untuk ularnya, kejadian ajaib terjadi dan membuat Mah Bongsu terkejut. Ternyata ular tersebut dapat pandai berbicara sebagaimana layaknya manusia. "Jangan terkejut. Malam ini antarkan aku ke sungai, tempat pertemuan kita dulu," kata si ular. Pada malam harinya, Mah Bongsu dan ular tersebut pergi ke sungai dimana Mah Bongsu menemukan ular tersebut. Sesampainya di sungai, sang ular mengutarakan isi hatinya pada Mah Bongsu. "Mah Bongsu, aku ingin membalas budi yang setimpal dengan yang telah kau berikan padaku," ungkap ular itu. "Aku ingin melamarmu dan menjadikanmu istrik," lanjutnya. Mendengar hal itu Mah Bongsu terkejut dan juga bingung harus menjawab apa. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sejurus kemudian, ular tersebut menanggalkan kulitnya, dan seketika berubahlah ia menjadi sosok pemuda tampan dan gagah perkasa. Kulit ular tersebut pun berubah menjadi sebuah gedung nan megah yang terletak di depan pondok Mah Bongsu. Tempat itu dikenal dengan nama "Tiban", berasal dari kata ketiban yang berarti kejatuhan keberuntungan atau mendapat kebahagiaan.

Pada Akhrinya, Mah Bongsu dan pemuda tampan nan gagah perkasa tersebut melakukan pernikahan. Tiga hari tiga malam pesta diadakan, berbagai macam hiburan pun ditampilkan. Silih berganti tamu yang datang, dan tiada henti-hentinya. Dibalik bahagianya pesta Mah Bongsu, keluarga Mak Piah yang tamak dan loba dilanda duka. Siti Mayang anak gadisnya Mak Piah meninggal, dikarenakan dipatok ular berbisa. Berdasarkan legenda, konon sungai yang menjadi tempat pertemuan Mah Bongsu dengan ular sakti yang kemudian berubah menjadi pemuda tampan itu dipercaya sebagai tempat jodoh. Hingga kini, sungai tersebut dikenal oleh masyarakat dengan nama "Sungai Jodoh".


Sejarah, Asal Usul atau Asal Muasal Legenda Kampung Tua Nongsa

Didapat dari sumber-sumber lisan dan juga silsilah yang ditulis di Pulau menyebutkan, bahwasanya seorang tokoh yang bernama Nong Isa telah membuka suatu perkampungan baru di Pulau Batam. Kampung baru ini lah yang dikemudian hari dikenal dengan nama Kampung Tua Nongsa.

Lalu, siapakah Nong Isa. Nong Isa bukan merupakan nama aslinya. Nama asli beliau ialah Raja Isa Bin Raja Ali yang merupakan penguasa pertama Pulau Batam. Dan berdasarkan cerita pusaka yang masih dikisahkan di Pulau Penyengat kata "Nongsa" berasal dari nama timangan Raja Isa sebagai Putera tertua Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau V atau mahrum Pulau Bayan : Nong Isa. Perubahan kata dari Nong Isa menjadi Nongsa, dikarenakan kesalahan pengucapan yang tidak disengaja sehingga lambat laun kampung baru tempat tinggal berubah menjadi Nongsa. Mungkin pada zaman dahulu apabila ada seseorang hendak pergi ke kampung tempat tinggal Raja Isa di Batam, maka ia selalu mengatakan akan pergi ke Nong Isa, sehingga lambat laun dan perlahan-lahan penyebutannya berubah menjadi Nongsa.

Banyak informasi yang menyebutkan bahwasanya Raja Isa tinggal di Kampung Nongsa. Diantaranya adalah Berknoopte aantekening over het eiland bintang 1833 yang artinya dalam Bahasa Indonesia Ringkasan Catatan tentang Pulau Bintan Tahun 1833. Penulis  buku ini menjelaskan Raja Isa atau Nong Isa berusia sekitar 50 tahun ketika itu, dan kampung kecil tempat ia bersemayam terletak di hulu Sungai Nongsa di Pulau Batam.

Pantai Nongsa di masa kin, Sumber : https://kabarwisata.com/2017/08/27/keindahan-wisata-pantai-nongsa-batam/

Sedangkan sumber  yang kedua adalah Beknopte aantekening van het eiland bintang nederlansch etablissant en eenige daar toe behoorende eilande yang dalam Bahasa Indonesia memiliki arti Catatan Singkat Tentang Pulau Bintan Loji Belanda dan Sejumlah Pulau yang ada disana tahun 1837. Kedua buku tersebut merupakan manuskrip Belanda  yang merupakan koleksi
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Perpustakan Nasional Republik Indonesia (PNRI) di Jakarta. Yang mana  dengan jelas bahwasanya Raja Isa tinggal di Kampung Nongsa atau Pulau Nongsa.

Pada abad awal abad ke 19 atau tahun 1829 Raja Isa atau Nong Isa juga memperoleh mandat dari Sultan Riau yaitu Sultan Abdulrahman Syah yang bersemayam di Lingga, dan Yang Dipertuan Muda Riau VI yaitu Raja Jakfar bahwasanya Nong Isa menerima perintah atau mandat untuk memerintah kawasan Nongsa dan rantau sekitarnya. Surat Mandat Nong Isa tersebut, dikeluarkan tanggal 22 Jumadil Akhir 1245 atau bertepatan dengan 18 Desember 1829. Yang dimana tanggal tersebut kini ditetapkan sebagai hari jadi Kota Batam. Keterangan tersebut dapat ditemui di dalam koleksi Arsip Riouw yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Sejarah, Asal Usul atau Asal Muasal Legenda Kampung Tua Tanjung Uma

Tanjung Uma merupakan salah satu daerah yang ada di Kota Batam. Asal kata Uma diambil dari kata atau frasa yang memiliki arti tempat kediaman atau tempat tinggal. Kemudian disederhanakan pengucapannya menjadi uma. Rumah-rumah tersebut berupa rumah-rumah panggung bertiang kayu. Disebabkan posisi kampong ini berada antara dua Tanjung yaitu Tanjung Pangkal Leppu dan Tanjung Kubur, masyrakat menamai kampungnya dengan tambahan kata Tanjung sehingga menjadi Tanjung Uma. Sedangkan menurut pendapat lain dari frasa "rumah" yang dalam bahasa Inggris "home" lalu masyarakat zaman dahulu mengucapkan denan (h) Ome lalu ume saja yang kemudian menjadi Tanjung Ume atau Tanjung Uma.

Masyarakat Tanjung Uma pada umumnya hidup dari hasil laut dan bercocok tanam, terutama Kelapa. Biasanya, Masyarakat Tanjung Uma berjualan hasil laut dan kelapa di Singapura. Mereka berangkat di pagi hari dan pulang di sore hari dengan menggunakan sampan layar. Masyarakat yang awal tinggal disini adalah orang-orang Melayu dan Bugis yang berasal dari keluarga Kerajaan Riau Lingga.

Di kampung ini, terdapat kuburan atau makam yang diperkirakan telah berusia beberapa abad. Letaknya berada di daerah bukit-bukit. Sehingga orang-orang menyebutnya dengan nama Bukit Kubur. Makam ini kerap diziarahi oleh warga. Selain itu, juga dijadikan tempat bagi warga untuk menggelar acara jejak tanah bagi bayi yang mulai berjalan.

Gerbang Tg Uma. Sumber :  https://breakingnews.co.id/read/kampung-tua-tanjung-uma-batam-makin-berdetak-saat-ramadan

Disamping itu ada sebuah makan yang berada di samping Masjid Baitussyakur, akan tetapi hingga kini pemilik makan tersebut tidak diketahui oleh masyarakat tempatan. Berdasarkan cerita turun temurun disitu, makam tersebut adalah milik saudara Habib Nuh. Habib Nuh sendiri dimakamkan di Singapura. Lebih tepatnya Tanjung Pagar, tempat ini juga tidak digusur pembangunan. Cerita lain mengatakan bahwasanya makam itu milik seorang tokoh bernama Panglima Hitam. Ianya gugur pada saat perang melawan Belanda.

Asal Usul atau Sejarah Asal Muasal Bermulanya Nama Batam

Khusus untuk Batam, hanya akan dibahas secara ringkas tentang asal namanya saja, sedangkan sejarahnya telah dibahas di artikel yuk mengenal Batam.

Pada peta pelayaran VOC yang terdapat pada perpustakaan Universitas Leiden Belanda, yaitu lebih tepatnya peta tahun 1675 pada kala itu Pulau Batam dikenal dengan nama Pulau Batang. Menurut sejarah beredar, yang mendiami Pulau Batam adalah Orang Selat atau Orang Laut. Mereka memiliki ras Melayu dan dikenal sebagai suku asli Batam. Diperkirakan Orang Selat pertama kali menghuni Pulau Batam pada tahun 231 Masehi. Pada zaman dahulu pantai yang ada di Batam ditumbuhi oleh suatu pohon jenis tertentu. Pohon ini memiliki batang yang khas. Pohon tersebut dibutuhkan oleh para pelaut. Para pelaut pun sering singgah di Pulau Batam untuk mengambil batang pohon tersebut. Dari kata "batang" itulah yang pada akhirnya berubah menjadi "batam".

Selain dari kisah diatas, ada juga versi lain tentang asal kata Batam. Kata Batam merupakan singkatan dari kata "Batuampar" yang kemudian  disingkat menjadi kata "Batam". Untuk asal muasal nama "Batuampar" sudah dibahas pada artikel diatas.

Welcome to Batam, Sumber : Google Maps. Diambil oleh Mohammad Mahadi Hasan

Menurut cerita yang beredar, kata "batang" memiliki arti kata "jembatan". Atau jalur penghubung antar Pulau Bintang (Bintan), Bulang(Bulan), Lingga, serta pulau-pulau lainnya termasuk Temasik (Singapura), dan juga Johor (Malaysia).


Kabupaten Karimun

Sejarah, Asal Usul atau Asal Muasal Bermulanya Nama Tanjung Balai

Pada masa pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga yang bertepatan dengan masa pemerintahan Raja Abdurahman, beliau mengangkat Raja Abdullah diangkat menjadi Amir pertama di Pulau Karimun. Kota Tanjung Balai tidak terlepas perkembangannya dari kedua tokoh tersebut. Begitu Raja Abdullah diangkat menjadi Amir, maka dibuatlah balai-balai yang bernama Balairum Sari oleh Raja Abdurahman yang berkedudukan di Pulau Penyengat.

Pada masa pemertintahan Raja Abdullah, pusat pemerintahan berada di Meral. Akan tetapi, tempat pertemuan para pembesar diadakan di Balairum Sari. Selain untuk pertemuan para pembesar, tempat tersebut juga merupakan tempat pertemuan antara Raja Abdullah dengan rakyatnya. Letak Balairum Sari teletak di Tanjung.

Sumber : https://www.kodesingkatan.com/singkatan-kota-tanjung-balai-karimun-tbk/

Apabila Raja Abdullah dan pembesar negeri hendak mengadakan perundingan, mereka menaiki kuda dengan menyusuri pantai di Pulau Karimun. Dikarenakan balai-balai atau tempat pertemuan itu terletak di kuala atau tanjung, maka disebutlah Tanjung Balai. Pada masa Belanda Balairum Sari diruntuhkan. Pada masa sekarang, bekas Balairum Sari dibangun rumah dinas Bupati.

Sejarah,Asal Usul atau Asal Muasal Bermulanya Nama Pulau Buru

Pulau Buru merupakan salah satu pulau yang terletak di Kabupaten Karimun. Dari cerita masyarakat, dahulu kala Pulau Buru menyatu dengan daratan Johor Malaysia. Menurut cerita masyarakat juga, Pulau Buru ini dikatakan pulau sumpahan dan hanyut. Meskipun dikatakan pulau sumpahan, tidak diketahui mengapa pulau ini disumpah oleh perkara apa. Pulau ini sering digunakan oleh etnis Cina untuk berburu. Terutama untuk berburu Babi. Oleh, karena itu pulau itu disebut Pulau Buru.

Salah Satu Masjid bersejarah di Pulau Buru, Sumber : http://seniberjalan.com/telusur-tapak-sejarah-pulau-buru/

Sejarah,Asal Usul atau Asal Muasal Bermulanya Nama Tanjung Batu


Tanjung Batu merupakan ibu kota Kecamatan Kundur. Tanjung Batu terletak di Pulau Kundur. Pada zaman dahulu, ada suatu wilayah di ujung pulau berupa tanjung atau tanah yang menjorok ke laut. Tanjung tersebut memilki keunikan tersendiri, yaitu banyaknya batu ditempat itu. Batu yang ada di tanjung tersebut cukup besar, lebih tinggi dari rumah. Orang-orang menyebutnya dengan batu tungku. Dikarenakan bentuknya yang menyerupai tungku. Tanjung yang mempunyai banyak batu inilah yang lama kelamaan dikenal dengan nama Tanjung Batu.

Tempat ini pada masa lalu memiliki peran penting bagi para pelayar (pelaut). Dikarenakan pelabuhan yang berada di tengah pulau, tanjung yang dipenuhi bebatuan tersebut pada awalnya berfungsi sebagai navigasi pelayaran dari dan ke Pulau Kundur.

Suasana Tg.Batu, Sumber : http://lendoot.com/mengenal-lebih-dekat-wisata-tanjungbatu-kundur-1/

Sejarah,Asal Usul atau Asal Muasal Bermulanya Nama Alai dan Pulau Ungar


Disebelah timur Tanjung Batu terdapat sebuah desa, bernama Desa Alai. Desa Alai ini tidak menyatu dengan Pulau Kundur. Oleh karenanya, apabila hendak pergi ke Desa Alai harus menggunakan pompong atau boat pancung dalam waktu tempuh kurang lebih lima hingga sepuluh menit. Jarak antara Tanjung Batu dan Desa Alai kurang lebih setengah kilometer.

Pada awalnya pulau ini bernama Pulau Ungar. Sama seperti daerah lain, nama Ungar juga memiliki legenda ataupun cerita turun-temurun di masyarakat. Dikisahkan pada zaman dahulu, hiduplah seorang nelayan. Dimana mata pencahariannya mencari ikan di laut. Pada suatu hari ia pergi ke laut untuk mencari ikan. Tak disangka sangka ia mendapat ikan yang sangat besar. Karena ukuran ikan tersebut yang terlalu besar, maka nelayan tadi tidak dapat menariknya. Yang dapat ia lakukan hanya menarik ikan tersebut hingga ke permukaan laut, dengan keadaan mulut ikan menganga keatas. Ikan yang mulutnya berada di permukaan laut tersebut mengalami kesulitan bernafas. Dengan nafas yang terengah-engah itu dari atas didengar seperti berbunyi "unga-unga". Dari kisah itulah nama Ungar diambil, dikarenakan wilayah laut Pulau Ungar banyak terdapat ikan "unga".

Suasana Pulau Ungar, Sumber : Google Maps diambil oleh Lina lina

Untuk nama alai sendiri baru dikenal masyarakat pada tahun 1930-an. Pulau Ungar disebut Alai berkaitan erat dengan seorang tokoh. Yaitu seorang guru yang bernama Jalaludin Ahmad. Beliau merupakan guru yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum.

Sumber Artikel : Situs Resmi Pemerintah Kepri, Batam dan Karimun serta Buku Kabupaten Karimun

No comments:

Post a Comment

LATIHAN SOAL CAT CPNS dan P3K TES INTELEGENSI UMUM BAGIAN VERBAL

Assalammualaikum wr.wb Selamat pagi teman-teman. Pada kesempatan kali ini masharist.com akan membagikan  LATIHAN SOAL CAT CPNS dan P3K TE...