Thursday, 14 February 2019

Munculnya Pulau Paku dan Berlayarnya Pelang

Seri cerita ini diambil dari buku Pulau Paku yang disusun oleh Tusiran Suseno dan Drs. Amiruddin A.A. Diterbitkan oleh Percetakan Basma Grafika, Yogyakarta. Cerita dari buku ini hanyalah sebagai sarana informasi bagi para pembaca yang membutuhkan dan bukan untuk dibajak atau disebarluaskan. Untuk mendukung pengarang serta penyusun, harap membeli buku ini di toko buku terdekat atau meminjamnya di perpustakaan. Kisah ini merupakan lanjutan dari Kisah Masyrakat Kepulauan Riau yang sudah dibaca di artikel sebelumnya. Selamat membaca.

Sumber : http://petalengkap.blogspot.com/2015/06/peta-provinsi-kepulauan-riau.html



2. Pulau Paku

Dalam sejarah Perang Riau, Pulau Paku menjadi saksi dan penyebab terkandasnya sebuah Kapal Komando Belanda yang bernama Malaka's Walvaren, kemudian hancur ditembak oleh laskar Riau yang berkubu di Teluk Keriting pimpinan Raja Haji. Peristiwa ini berlangsung pada tanggal 6 Januari 1784. Yang kemudian dijadikan tarikh lahirnya Hari Jadi Kota Tanjungpinang.

Sedangkan menurut ceirta orang-orang tua dahulu, Pulau Paku dipercayai sebagai lambang kemakmuran Kota Tanjungpinang.

Dahulunya di tengah Pulau Paku itu tumbuh sebuah pohon. Jika pohon itu subur maka makmurlah rakyat Tanjungpinang. Sebaliknya jika pohon itu tidak subur atau daunnya berguguran dan mati maka kehidupan masyarakat Tanjungpinangakan mengalami kesusahan dan kesulitan. Wallahu alam bisshawab.

Selain itu juga dipercayai,bagi seseorang yang sudah lama berdiam di Kota Tanjungpinang ini, lalu kehidupannya menjadi senang atau kaya, jika orang itu kemudiannya ingin meninggalkan Kota Tanjungpinang dan menetap ditempat lain. Sebelum meninggalkan Tanjungpinang hendaklah memberikan atau melemparkan emas paling tidak satu gram atau barang se-gram*) di Pulau Paku sebagai syarat dan ungkapan terimakasih.

Sumber  :  http://belajar1210.blogspot.com/2018/03/pulau-melayu.html

Kononya pula, jika orang-orang yang akan pindah tersebut khususnya orang-orang kaya tidak melakukan hal itu, akan mendapat musibah atau kesusahan. Soal perkara yang satu inipun, benar atau tidaknya, Wallahu alam bisshawab.

Berkaitan dengan soal kepercayaan atau mitos tentang Pulau Paku, menurut ceritanya mempunyai kisah tersendiri tentang asal muasalnya.

Syahdan, menurut yang empunya cerita, kisah Pulau Paku bermula dari Pulau Penyengat. Pulau Penyengat merupakan sebuah pulau yang indah dan tempat orang mengambil air bersih bagi para pelaut yang akan pergi berlayar. Karena di Penyengat terdapat sumber air yang bersih.**)

Kemudiannya, lama kelamaan Pulau Penyengat menjadi tempat tinggal penduduk Melayu yang terkenal dengan kehidupan ramah-tamah, sopan santun dan pandai bergaul. Kehidupan masyarakatnya sebagian besar sebagai nelayan, mereka hidup aman sentausa, saling menyayangi antara satu sama lain layaknya saudara sendiri. Dalam suasana yang aman dan damai seperti itu, tersebutlah seseorang yang bernama Panglima Jangoi, yaitu seorang ketua lanun atau perompak di laut. Panglima Jangoi berkuasa di Laut Cina Selatan, Serawak dan Kamboja sampai ke pesisir timur Pulau Sumatera.

Suatu ketika Panglima Jangoi mendapat khabar bahwa di Negeri Bintan kehidupan masyarakatnya sangat makmur serta banyak dikunjungi oleh para saudagar dan pendatang.

Mendengar kabar itu, sangat tertariklah hati Panglima Jangoi untuk menyerbu dan merompak di negeri Bintan. Maka diperintahkan kepada seluruh anak buahnya untuk berlayar menuju Negeri Bintan. Sudah menjadi kebiasaan, setiap kapal atau perahu yang ingin masuk ke Negeri Bintan harus membunyikan meriam sebanyak tiga kali atau tiga das sebagai pemberitahuan kepada pembesar setempat. Pada waktu itu yang diberikan kepercayaan sebagai Pembesar di Penyengat adalah Panglima Kawal. Seorang Panglima yang gagah perkasa, arif bijaksana dan baik pula budi pekertinya.

Maka ketika perahu-perahu lanun yang diketuai oleh Panglima Jangoi berlabuh di tengah laut antara Teluk Keriting dengan Pulau Penyengat. Kemudian mereka membunyikan meriam sebanyak tiga kali. Hiruk pikuklah dan ketakutan masyarakat di Pulau Penyengat, karena mereka mengetahui bahwa yang datang itu adalah Perompak yang sangat kejam.

Pada saat itu, setelah membunyikan meriam sebanyak tiga kali atau tiga das, Panglima Jangoi dengan sombongnya memerintahkan kepada anak buahnya agar meriam diarahkan ke Pulau Penyengat. Dengan seketika pula anak buah Panglima Jangoi telah siap mengarahkan meriam ke Pulau Penyengat. Hanya menunggu perintah Panglima Jangoi untuk menembak.
Semakin ketakutanlah masyarakat di Pulau Penyengat itu, terus mereka pergi mengadu kepada Panglima Kawal. Dengan wajah yang jernih dan penuh ketenangan, Panglima Kawal menerima aduan dari masyarakat akan prihal kedatangan para lanun atau perompak itu.

"Wahai sekaliannya hamba rakyat, tetaplah bertenang. Apapun kejadiannya yang berlaku kita boleh menyelesaikan dengan tenang!"  Demikian kata Panglima Kawal menghadapi aduan dari segala hamba rakyat itu.

"Percayalah, hamba akan mencoba untuk menyelesaikan perkara ini dengan sebaik-baiknya. Janganlah kamu semua menjadi gopoh dan terlalu ketakutan." Ujar Panglima Kawal meminta kepada seluruh rakyat supaya bertenang.

Lalu dengan ketabahan tanpa rasa takut sedikitpun, Panglima Kawal menaiki perahunya menuju ke arah pasukan lanun yang diketuai Panglima Jangoi.

Sesampainya ke perahu Panglima Jangoi, Panglima Kawal pun memberi salam.

"Assalamu'alaikum ... ya, saudaraku Panglima Jangoi yang gagah berani ...!" Mendengar salam dan bahasa yang sopan dari Panglima Kawal, sangat terkejut dan heranlah Panglima Jangoi.

Tak pernah disangkanya bahwa masyarakat di sini begitu baik dan sopan, penuh dengan rasa persaudaraan. Padahal Panglima Kawal tentulah sudah mengetahui siapa mereka sebenarnya. Yaitu sekumpulan lanun atau perompak di laut yang ganas dan kejam.

Mendapat salam dan dengan bahasa penuh persaudaraan itu, untuk seketika kesombongan Panglima Jangoi tidak ditampakkannya dan ia pun menjawab salam itu.

"Wa'alaikum salam ... silahkan duduk Panglima Kawal," ujar Panglima Jangoi dengan serba salah.
Tetapi setelah memperhatikan gerak-gerik Panglima Kawal yang lemah lembut, dalam hatinya Panglima Jangoi berkata, "Orang selemah ini pasti mudah untuk dikalahkan."

Setelah Panglima Kawal duduk, maka berkatalah Panglima Jangoi.

"Niat saya datang kemari untuk melihat-lihat negeri ini, yang menurut cerita orang sangat makmur!" kata Panglima Jangoi menutupi niat jahatnya.

"Oh, begitu ... sebagai Pembesar yang dipercayakan untuk menjaga Pulau Penyengat, hamba merasa bangga dan senang sekali dengan kedatangan Panglima Jangoi beserta anak buahnya. Kalau niat tuan hamba baik, maka tersangat senanglah hati kami disini ... " Sahut Panglima Kawal, masih dengan ketenangan dan keramahannya.

Sejurus kemudian Panglima berlalu dari Panglima Kawal untuk mengambil tempat tepak sirih. Maksudnya mau menjamu Panglima Kawal sebagaimana adat istiadat Orang Melayu.

Sungguh luar biasa, didalam tepak sirih itu bukannya berisi daun sirih seperti lazimnya. Melainkan daun Jelatang yang mirip daun sirih, tetapi daun ini sangat gatal. Sesungguhnya Panglima Jangoi ingin menunjukkan kesaktiannya di depan Panglima Kawal, bahwa ia sanggup mengunyah dan menelan daun Jelatang yang amat gatal itu.

Dengan sombongnya Panglima Jangoi pun berkata, "Kami yang biasa di laut tidak makan sirih, karena daun sirih payah mendapatkannya, maka sebagai penggantinya daun Jelatang inilah," ujar Panglima Jangoi sambil melipat-lipat daun Jelatang, lalu dikunyahnya dengan nikmat. Seakan-akan mengunyah daun Sirih.

Panglima Jangoi memperhatikan semua gerak-gerik Panglima Kawal yang memandangnya dengan kagum. Dalam hati ia pun berkata dalam hatinya, "Baru kau tahu, betapa kesaktianku, ya?"

Sambil tersenyum Panglima Kawal memperhatikan tingkah laku Panglima Jangoi yang sombong itu. Kemudian dengan tenang Panglima Kawal mengeluarkan kapur, gambir dan buah pinang dari sakunya.

"Kamipun disini sudah lama tak makan daun sirih, jadi kami makan Bakek.***) Tapi karena di sini Bakek pun tak ada, maka sebagai penggantinya adalah Paku ini ........." kata Panglima Kawal sambil mencabut dua batang paku sebesar jari yang tertancap di tepi perahu.

Setelah kedua batang paku sebesar ibu jari itu dicabut lalu dipatah-patahkan layaknya bagai mematahkan batangan Bakek. Dicampurnya dengan kapur, gambir dan pinang terus dikunyah dengan nikmat.

Melihat perbuatan Panglima Kawal itu, Panglima Jangoi beserta anak buahnya sangat terkejut dan pucatlah wajah mereka.

Rupanya Panglima Kawal lebih sakti. Mematahkan paku sebesar jari seperti mematahkan batangan Bakek dan mengunyahnya sedemikian mudah. Tanpa disadari Panglima Jangoi telah merasa takluk akan kesaktian Panglima Kawal.
Hatinya berkata, "Ini, barukan seorang Panglima sudah sedemikian saktinya. Bagaimana dengan orang-orang lain di negeri Bintan ini. Ah, tak mungkin rasanya aku dapat mengalahkan negeri ini."

Setelah melihat kesaktian Panglima Kawal, tanpa semena-mena****) Panglima Jangoi menjabat tangan Panglima Kawal sambil berkata, "Hamba mohon maaf kepada Panglima Kawal. Hamba bersumpah dengan Paku ini, bahwa tidak akan menaklukkan Pulau Penyengat dan negeri Bintan ini, selagi hamba masih hidup." Kata Panglima Jangoi seraya mengambil sebuah Paku dan diacungkan di hadapan Panglima Kawal.

Dibawanya Paku itu dengan mengajak Panglima Kawal sebagai saksi ke tepi perahu, dan ia pun berkata, "Aku jatuhkan Paku ini ke dalam laut. Sekiranya tenggelam hamba batalkan niat hamba untuk menaklukkan negeri ini, tetapi jika timbul akan hamba teruskan niat mengalahkan negeri ini, apapun yang terjadi."
Ternyata Paku yang dijatuhkan itu tenggelam dan tak menampakkan wujudnya lagi. Kemudian kedua Panglima itu saling bersalaman dan akhirnya Panglima Jangoi memerintahkan kepada seluruh anak buahnya untuk segera berangkat meninggalkan negeri itu menuju ke Siantan.
Panglima Kawal pun dengan tenang meninggalkan Perahu Panglima Jangoi dan menaiki perahunya sendiri untuk kembali ke Pulau Penyengat.
Sementara itu, ada beberapa orang lanun merasa heran dengan perintah ketua mereka. Terpaksa dijelaskan oleh Panglima Jangoi, bahwa orang-orang di negeri ini sangat sakti, tak mungkin untuk dapat dikalahkan.
Dilain pihak, rakyat Pulau Penyengat merasa sangat gembira melihat Panglima Kawal kembali dengan selamat tak kurang suatu apa.
Panglima Kawal mengabarkan kepada rakyat di Pulau Penyengat, bahwa kedatangan Panglima Jangoi dan anak buahnya hanya ingin bersahabat.
Sejak kejadian itu, masyarakat pun kembali bekerja dengan segala kesibukan masing-masing. Hinggalah tiada terasa waktu berlalu. Hari berganti hari, dari bulan ke bulan sampai pergantian tahun demi tahun.

Dengan kehendak Allah jualah, sampai kepada waktunya Panglima Kawal yang arif-bijaksana dan berbudi pekerti itu meninggal dunia.
Maka berkabunglah seluruh rakyat di Pulau Penyengat atas kematian Panglima mereka.
Tetapi di tempat lain, di Siantan, Panglima Jangoi yang telah tua dan sakit-sakitan mendengar kabar kematian Panglima Kawal dari anak buahnya yang merompak dari Laut Cina Selatan, Serawak, Kamboja sampai ke perairan pesisir pulau Sumatera; merasa suka dan bergembira.

"Ha ha ha ha ... nampaknya niat hamba untuk menaklukkan Penyengat akan terlaksana. Sebab Panglima yang sakit sudahpun meninggal." Ujar Panglima Jangoi yang mendapat khabar dari anak buahnya sambil tertawa-tawa.

Maka tanpa membuang waktu diperintahkan kepada seluruh anak buahnya dengan kelengkapan perang yang cukup untuk berlayar menuju ke negeri Bintan.

Pada suatu hari sampailah para lanun itu dan berlabuh di tempat yang sama ketika untuk pertama kali mereka datang. Lalu dilepaskan tembakan meriam sebanyak tiga kali atau tiga das sebagai pertanda kedatangan.

Rakyat di Pulau Penyengat yang mengetahui kedatangan para lanun itu sangat ketakutan, maka hiruk pikuklah mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, karena Panglima kebanggan mereka telah meninggal dunia.

Panglima Jangoi yang telah tua dan sakit-sakitan masih berusaha dengan sekuat tenaga memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengarahkan meriam ke Pulau Penyengat dan menembakkannya.

Tetapi ketiak Panglima Jangoi berada di muka untuk melepaskan tembakan sebagai aba-aba pertama, tiba-tiba ia terjatuh dan nafasnya sesak. Melihat ketua mereka terjatuh dan nafasnya sesak tak bisa bernafas, maka sibuklah anak buah lanun. Untuk sementara dilupakan niat untuk menembaki Pulau Penyengat.

Panglima Janhoi di bawa masuk ke dalam perahu yang besar dan dibaringkan di tempat tidurnya.
Dalam keadaan seperti itu, Panglima Jangoi teringat sumpahnya kepada Panglima Kawal.
Ia merasa telah termakan sumpah, dan sepertinya ia merasa sudah akan sampai pada ajalnya. Maka berpesanlah Panglima Jangoi kepada seluruh anak buah lanun supaya membatalkan niat untuk menaklukkan Pulau Penyengat dan negeri Bintan.

Ia minta, sekiranya meninggal dunia supaya jenazahnya dikebumikan di dasar laut, tepat di bawah perahu mereka. Juga meminta kepada seluruh anak buah untuk kembali ke Siantan.

Dengan takdir Allah, meninggallah Panglima Jangoi. Kemudian jenazahnya dikebumikan sebagai mana pesannya. Pengebumian itu dikerjakan oleh anak buah Panglima Jangoi bersama-sama rakyat di Pulau Penyengat.

Ketika jenazah Panglima Jangoi akan diturunkan ke dalam laut, tiba-tiba angin bertiup dengan kencang dan gelombang laut pun sangat besar yang membawa jenazah Panglima Jangoi sampai ke dasar laut.

Setelah pengebumian itu selesai, seluruh anak buah lanun berangsur-angsur meninggalkan tempat itu.

Ketika perahu Panglima Jangoi akan berangkat tiba-tiba terdengar suara petir yang bersahut-sahutan, diikuti dengan angin yang kencang serta ombak yang menggulung-gulung.

Dari dasar laut, tepat dari tempat jenazah Panglima Jangoi dikebumikan, muncullah sebuah pulau. Pulau itu terdiri dari pasir dan bebatuan serta lumpur, serta di tengahnya tumbuh sebatang pohon, Pohon Paku.

Seluruh anak buah lanun dan masyarakat di Pulau Penyengat menyaksikan kejadian itu. Sebuah kejadian yang tak mungkin terlupakan sepanjang hayat mereka dan kelak diceritakan kepada anak cucu mereka.

---/////\\\\\---

Pesan :

- Hidup hendaklah berhati-hati, harus pandai menghargai orang lain.
- Jauhi sikap sombong. Sebab sikap sombong adalah suatu sikap yang tidak baik.
- Jangan sekali-sekali untuk bersumpah. Dan kalau bersumpah jangan mempermainkan sumpah yang    telah diucapkan


Nara sumber :

- Bapak R. Hamzah Yunus, salah seorang pemuka masyarakat dan tokoh budayawan di Kepulauan Riau.
- Bapak R. Razak, pensiunan Polisi.
- Bapak Abdullah, seorang pendidik.

Keterangan :

*) Istilah untuk orang Melayu adalah bebuang, yang dilakukan sebagai syarat
**) Menurut versi sejarah Pulau Penyengat menjadi tempat pemukiman penduduk yang ramai setelah Pusat Kerajaan Riau Lingga di pindahkan ke Pulau Penyengat. Selain itu Pulau Penyengat juga sebagai Emas Kawin Engku Putri dari Sultan Machmud.
***) Bakek sejenis tanaman menjalar seperti pokok merica, buah bakek panjang-panjang kira-kira sepanjang jari tapi agak kecil sedikit dan buahnya bergurutu. Biasanya dipergunakan sebagai campuran untuk menyireh atau makan sirih.
****) tanpa semena-mena = tanpa sebab.

---/////\\\\\---

3. PELANG*)


Perkataan Pelang sama dengan artinya Perahu Lancang Kuning. Tetapi perkataan Pelang berasal dari orang Bintan. Cerita tentang Pelang ini mirip seperti cerita Lancang Kuning, yaitu sebuah perahu diraja yang dibuat, tetapi untuk meluncurkannya ke laut dengan mengorbankan seorang wanita yang sedang hamil sulung sebagai landasannya.
Berbeda dengan Pelang walau juga menggunakan syarat wanita hamil sulung, tetapi tidak untuk dikorbankan melainkan hanya sebagai syarat. Dan syarat wanita hamil sulung itu, bukan pula seroang atau dua orang, melainkan sebanyak 10 orang.

Nah, inilah ceritanya :.....
Kononnya di zaman dahulu di Pulau Bintan adalah seorang raja yang arif dan bijaksana.
Paduka suka sekali bersiar-siar sambil melihat dari dekat kehidupan rakyatnya. Dengan demikian Paduka Raja akan mengetahui keadaan yang sebenarnya dari rakyatnya. Dan tidak hanya mendengar laporan para pembesar-pembesar kerajaan yang terkesan hanya berita yang baik saja tentang rakyatnya.

Akan tetapi karena rakyat kerajaan Bintan banyak yang hidup di pulau-pulau lain yang terpisah dari Pulau Bintan, maka tidak semua keinginannya dapat terpenuhi, sehingga Paduka menjadi murung.

Pada suatu ketika terbitlah keinginan Paduka Raja untuk memiliki sebuah perahu besar yang lengkap untuk mengarungi lautan dan mampu menghadapi segala cuaca.

Sebelum pembuatan Pelang, maka Baginda Raja berembuk terlebih dahulu bersama orang-orang besar kerajaan. Setelah itu barulah diambil kesepakatan untuk memanggil seorang Bomo**) yang sakti.

Maka datanglah ke istana seorang Bomo sakti yang akan menelek-nelek***) berbagai kemungkinan. Akhirnya setelah Bomo itu siap dengan pekerjaan telek-menelek, dapatlah petunjuk dari pandangan batinnya, bahwa tempat yang cocok untuk membuat perahu di raja adalah di Pulau Karas. Serta cara menebang pohon kayu yang akan dipergunakan untuk perahu itu haruslah dengan cara menebang lurus atau datar, tidak boleh mereng sebagaimana layaknya orang menebang pohon.

Kemudian Baginda Raja memberikan titah untuk pembuatan Pelang itu di Pulau Karas. Maka dipilihlah orang-orang pandai dan berpengalaman untuk membuat perahu diraja yang besar dan lengkap. Di saat pembuatan perahu itu, tanpa disadari oleh para tukang ada seorang budak****) sedang bermain-main di sekitar tempat pembuatan perahu di raja itu, tanpa disadari si budak melintas di depan perahu besar itu dan terkena bekas tarahan kayu hingga kakinya luka dan sibudak merasa kesakitan. Dalam marahnya si budak berkata,"Aku satukan engkau dengan tanah, baru tahu!" Sambil berkata begitu, dipijak-pijaknya tarahan kayu atau serpihan-serpihan kayu yang yang ditarah itu.

Perkataan anak itu terdengar oleh si pembuat perahu. Maka dengan cepat disingkarkan bekas tarahan kayu dari hadapan budak tersebut. Entah kenapa si pembuat perahu merasa hatinya tak enak, tapi dikerjakannya juga pembuatan perahu itu bersama teman-temannya yang lain. Beberapa bulan kemudian siaplah pembuatan Perahu Diraja yang besar lengkap  dengan segala isinya. Maka tiada berapa lama datanglah orang mengabarkan tentang kesiapan Perahu Diraja itu.

"Ampun beribu ampun Tuanku, patik datang menjunjung sembah hendak mengabarkan tentang perahu diraja yang telah siap diperbuat!" Demikian sembah orang itu.

"Baiklah, kalau begitu Beta perintahkan supaya perahu itu di bawa ke Pelabuhan, supaya Beta boleh melihat dari dekat!" Titah Baginda Raja dengan suka cita.

Hati Paduka Raja begitu gembira dan merasa bangga, karean rakyatnya bekerja siang dan malam untuk dapat menyiapkan Perahu Diraja.

Sumber : https://bedenai.blogspot.com/2016/09/sejarah-singkat-awal-mula-lancang-kuning.html

Syahdan, sampailah pada ketikanya Perahu itu untuk diluncurkan ke laut dari galangan. Tetapi walau begitu banyak orang yang menolak perahu, ternyata perahu di raja itu, sedikitpun tak bergerak!
Keesokan harinya dicoba lagi untuk menolak kapal itu, hal yang sama terjadi seperti hari sebelumnya. Perahu itu sedikitpun tidak bergerak!

Berita tentang Perahu Diraja yang tak dapat ditolak ke laut sampai juga kepada Baginda Raja. Hati Baginda masgul. Apa gerangan sebenarnya yang sudah terjadi?

Teringatlah Baginda Raja kepada Bomo sakti, mungkin sang Bomo bisa mengetahui penyebab hingga Perahu tersebut tak dapat ditolak ke laut.
Tiada lama kemudian Bomo sakti itupun datang ke istana dan langsung Paduka Raja bertitah,"Wahai Bomo yang sakti, cobalah Bomo berikhtiar mencari jalan dan melihat apa penyebab Perahu Beta itu tiada dapat diluncurkan ke laut ..."

Maka jawab Bomo sakti,"Baiklah Tuan ku ... patik akan mencoba untuk menilek dengan jampi-jampi serapah, dan berikhtiar sedaya upaya untuk mencari penyebabnya serta mencari jalan keluarnya. Ampun, Tuanku..."

Bomo Sakti itupun mulai dengan kerja telek-menelek, sejurus kemudian diperdapatlah suatu jalan dan penyebabnya kenapa Perahu Diraja itu tidak dapat ditolak ke laut.

"Ampun Tuanku beliau ampun sembah patik harap diampun, adapun penyebab dari Perahu itu tiada dapat diluncurkan karena sudahpun melanggar beberapa pantang larangnya,"Ujar Bomo itu mengaturkan sembah.

"Melanggar pantang larang?" Tanya Baginda Raja terkejut.
"Ampun Tuanku, ketika dilaksanakan pembuatan perahu, ada seorang budak lelaki melintas dan terkena bekas tatahan kayu hingga terluka. Budak lelaki itu marah dan mengeluarkan kata-kata, Aku satukan engkau dengan tanah! Demikian kata si budak lelaki itu,Tuanku."

"Hanya karena kata-kata dari budak lelaki yang terkena bekas tarahan kayu, mengakibatkan perahu Beta tak dapat diluncurkan?" Ujar Baginda Raja seakan tidak percaya.

"Ampun, Tuanku ... demikianlah adanya. Memang sulit untuk dipercaya, hanya karena ucapan seorang budak, mengakibatkan pekerjaan yang besar sampai tertunda." Jelas si Bomo.

"Apakah ada yang lain ...?" Tanya Baginda Raja kemudian.

"Untuk..sekarang..sekarang ini..belum lagi, Tuanku,"ujar Bomo Sakti agak gugup.

"Jika demikian akan segera Beta perintahkan kepada orang-orang yang membuat perahu itu untuk mencari Budak Lelaki itu. Supaya perahu Beta dapat segera diluncurkan ... " Demikian Paduka Raja bertitah.

Kononnya, tidak hanya si pembuat perahu yang mencari budak lelaki yang pernah melintas di depan perahu, tetapi juga rakyat jelata bersama-sama mencari.

Akhirnya budak lelaki itupun ditemukan. Lalu dibawa di hadapan Perahu Diraja.

Setelah sampai di depan perahu itu, berkatalah si pembuat perahu,"Wahai anaknda yang baik, tolaklah Perahu Diraja ini ke laut!"

"Nanti! Perahu ini tak akan dapat hamba tolak ke laut jika tidak dengan syaratnya!" Kata Budak Lelaki itu dengan suara yang wibawa, seakan buka suara anak seusianya.

"Pakai syarat?" Tanya si pembuat perahu seakan tak percaya.

"Benar Pak Cik, syaratnya ialah dengan 10 orang yang hamil sulung..."Kata budak lelaki itu.

"Caranya bagaimana?" Tanya si Tukang Perahu.

"Lima orang diletakkan di sebelah kiri perahu, dan lima orang lagi diletakkan di sebelah kanan perahu. Tetapi sepuluh orang wanita hamil itu bukan sebagai tumbal, hanya sebagai syarat saja.."
Ujar anak lelaki itu dengan dengan suaranya yang wibawa.

Syahdan, berita itupun sampailah kepada Baginda Raja. Maka dengan segera Baginda Raja memanggil seluruh pembesar kerajaan untuk bermusyawarah.

Akhirnya orang-orang besar kerajaan percaya bahwa apa yang disampaikan oleh budak lelaki itu, sebenarnya bukan dari anak itu sendiri melainkan suara makhluk gaib. Sebab, rasanya tak mungkin budak lelaki sebesar itu, dapat mengetahui dan berkata-kata seperti itu.

Maka disepakatilah untuk mencari 10 wanita yang sedang hamil sulung. Tiada terperikan lagi, maka hebohlah seluruh rakyat di Kerajaan Bintan, karena Paduka Raja memerintahkan untuk mencari 10 orang wanita yang hamil sulung.

Para Hulubalang dan Panglima bekerja siang malam untuk mencari 10 orang wanita hamil di serata pelosok dan kampung.

Akhirnya dapatlah 10 orang wanita hamil sulung. Lalu kesepuluh wanita itu di bawa ke Pulau Karas dimana tempat pembuatan perahu itu.

Kesepuluh orang wanita yang hamil sulung itu sangat ketakutan dan menangis tersedu-sedu. Karena mereka beranggapan dirinya akan dijadikan tumbal, dan mereka akan mati. Mereka tidak tahu bahwa apa yang dilakukan itu hanya sebagai isyarat saja.

Konon, banyaklah hamba rakyat yang datang untuk menyaksikan kejadian tersebut, tak ketinggalan pula para pembesar negeri.

Menurut ceritanya, keesokan harinya, segala upacara pun dijalankan. Kesepuluh orang wanita hamil sulung itu dibaringkan di sisi perahu. Lima orang sebelah kanan dan lima orang lagi disebelah kiri.
Tiada terperikan lagi, kesepuluh wanita hamil sulung itupun menangis ketakutan, hingga suara tangisan mereka terdengar begitu memilukan. Sesudah semua syarat dilakukan, dibawah arahan budak lelaki itu, iapun memberikan aba-aba.

"Bismillah ...1...2...3...!"
Maka, sungguh ajaib. Perahu diraja itu dapat dengan mudah meluncur ke laut. Padahal sebelumnya, dari sekian banyak hamba rakyat yang mendorongnya ke laut, sedikitpun tidak bergerak. Tetapi sekarang...?

Bersamaan dengan itu pula, kesepuluh orang wanita hamil sulung itu melahirkan dengan serentak. Anak-anak yang baru lahir itu comel-comel belaka, cantik dan tampan.

Anehnya, lima orang wanita sebelah kanan melahirkan bayi perempuan semua dan cantik-cantik. Sedangkan yang sebelah kiri melahirkan bayi lelaki yang semuanya tampan-tampan belaka.

Suasana yang semula menyedihkan, seketika berubah menjadi suasanan yang menggembirakan. Itulah suatu kejaiban, yang seakan tidak masuk akal. Tetapi demikianlah yang sebenarnya, menurut dari empunya cerita.

Alkisah, semua upacara peluncuran Perahu Diraja itu di sampaikan kepada Baginda Raja. Sungguh bahagia dan gembira hati Baginda Raja, bahwa perahu yang diinginkan telah dapat diluncurkan ke laut.

Kemudiannya kelima oran bayi perempuan itu diserahkan kepada Baginda Raja. Dan inilah kemudian menjadi Raja-Raja Perempuan di Bintan.

Sedangkan lima orang bayi lelaki diserahkan kepada setiap orang penjaga yang menempati 5 buah pulau yaitu, Pulau Karas, Pulau Pangkil, Pulau Galang, Pulau Mapur dan Pulau Kasu. Yang kesemuanya setelah dewasa menjadi penjaga setiap pulau tersebut dari serangan musuh yang akan masuk ke Bintan.

Perahu Diraja berlayar sebagaimana yang diharapkan oleh Raja. Dan perahu itu disebut dengan Pelang.
Kononnya, Pelang tidak hanya digunakan untuk melihat rakyat di merata pulau yang begitu banyak di sekitar pulau Bintan, tetapi juga dipergunakan untuk berperang menghalau setiap musuh yang datang. Mengalahkan para lanun atau bajak laut.
Maka tersebutlah negeri Bintan semakin makmur berkat Raja yang adil dan bijaksana. Pada masa itulah kononnya Bintan dipegang oleh Raja-Raja Perempuan.

---/////\\\\\---

Pesan :

- Pemimpin yang mencitai rakyatnya, juga akan sangat disayangi rakyatnya. Sesulit apapun pekerjaan, akan dikerjakan oleh rakyat secara bergotong-royong.
- Supaya lebih berhati-hati di dalam melaksanakan berbagai pekerjaan.


Nara sumber :

- Bapak R. Razak, pensiunan Polisi.
- Latifah R. Razak
- Orang-orang tua di Bentan Bukit Batu.

Keterangan :

*) Sebutan untuk huruf e pada kata Pelang adalah e peped. Bukan e biasa
**) Bomo sama dengan dukun, yang pandai ilmu batin dan pandai melihat alam gaib.
***) Asal katanya telek. Menelek-nelek = melihat dengan ilmu batin, (ilmu gaib).
****) Budak untuk sebutan anak-anak, Orang Melayu biasanya menyebut "budak-budak", bukan anak-anak.
Budak lelaki = anak lelaki.
---/////\\\\\---


EmoticonEmoticon