Rahasia & Asal Muasal Tempat di Kepulauan Riau Bag.2

Setelah membaca bagian I, para pembaca telah mengetahui sejarah, asal usul atau asal muasal daerah di Kota Batam dan sebagian daerah di Kabupaten Karimun. Berikut adalah lanjutan dari artikel pertama :

Kabupaten Karimun


Sejarah, Asal Usul atau Asal Muasal Bermulanya Nama Meral

Ketika Portugis datang ke Malaka, sehingga pada akhirnya Kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis, Sultan Malaka memberikan larangan kepada Zuriat atau anak keturunan Kerajaan Malaka untuk tetap tinggal di Malaka. Sultan memerintahkan hal tersebut dikarenakan beliau takut apabila tetap tinggal dan melawan Portugis di Malaka maka keturunan-keturunan Kerajaan Malaka akan musnah. Seperti yang diketahui bahwasanya pada masa itu Portugis memiliki bala tentara yang kuat dan senjata yang memadai. Dikarenakan kondisi tersebut, dan suasana yang tidak memungkinkan utnuk berkuasa kembali seperti semula maka Sultan Mansyur Syah menganjurkan untuk mencari tempat yang baru lalu kemudian ditempat tersebut didirikan kerajaan-kerajaan kecil. Maka selang berapa lama munculah lima kerajaan pecahan Kerajaan Malaka yaitu  Kerajaan Indrasakti di Pulau Penyengat, Kerajaan Indraloka di Pulau Temasek, Kerajaan Indrapura di Rengat, Kerajaan Indrapuri di Langkat. Itulah kerajaan-kerajaan kecil yang muncul sebagai perintah dari Sultan Mansyur Syah.



Wilayah Kecamatan Meral pada  Peta Pulau Karimun,
sumber : Google Maps




Sementara itu rakyat dari Kerajaan Malaka juga ikut berpencar diantara mereka ada juga yang tinggal di Pulau Karimun. Pada saat dikuasai Portugis jalur perdagangan Selat Malaka dilalui oleh kapal-kapal yang dari luar negeri. Akan tetapi kapal-kapal ini tidaklah aman dalam perjalanannya dikarenakan adanya perompakan kapal di tengah laut. Para pelakunya adalah lanun atau bajak laut. Para lanun tersebut tinggal di pulau-pulau sekitar Kepulauan Riau salah satunya Pulau Karimun. Diantara sekian banyak lanun, ada seorang lanun yang terkenal sebagai kepala lanun ia tinggal di Pulau Karimun. Ia bernama Pameral. Dari kisah ini dapat dipastikan bahwasanya Pulau Karimun sarangnya atau basi dari perompak bajak laut yang pada saat itu disebut lanun.

Para lanun ini sering menyerang kapal-kapal yang berlayar di wilayah Kerajaan Riau-Lingga. Sehingga pada akhirnya masuklah laporan kepada Raja Kerajaan Riau-Lingga yang dilaporkan oleh keamanan laut, bahwasanya diperairan laut mereka sering terjadi perompakan diatas kapal-kapal yang melalui daerah ini. Para pembesar kerajaan melakukan perundingan untuk mengatasi masalah ini. Dari perundingan tersebut salah seorang menteri mengusulkan agar Pameral sang kepala lanun ditangkap. Usul ini akhirnya diterima, Pameral selanjutnya ditangkap, lalu dimasukkan kedalam penjara di Pulau Penyengat.

Ilustrasi Kapal Lanun,
sumber : https://www.pexels.com/photo/boat-classic-clouds-cruise-173910/

Meskipun Pameral telah ditangkap, beberapa bulan kemudian kondisi tidaklah menjadi lebih baik sebagaimana harapan semula. Bahkan frekuensi perompakan menjadi lebih tinggi daripada sebelumnya. Para pembesar kerajaan melakukan perundingan kembali. Dari hasil perundingan tersebut di putuskan untuk memanggil Pameral. Setelah perundingan selesai, Pameral dipanggil oleh sultan. Ia diberi tugas untuk mengamankan daerah yang sering terjadi perompakan. Dengan jaminan bahwa Pameral akan bebas dari hukum pancong jika ia bisa menunaikan tugasnya dan daerah tersebut menjadi aman. Tak berapa lama waktu berselang, wilayah laut Selat Malaka menjadi aman.

Dikarenakan jasa-jasa Pameral yang telah membantu kerajaan tersebut. Pameral diangkat menjadi Batin pertama didaerah tersebut. Selain itu juga Raja memberi tanah /daerah tersebut ke Pameral. Tak berapa lama, Raja Abdul Rahman yang berkedudukan di Pulau Penyengat mengangkat wakil raja yaitu Raja Abdullah untuk menjadi Amir pertama di daerah ini. Daerah tersebut sekarang ini dikenal dengan nama Meral.

Sejarah,Asal Usul atau Asal Muasal Bermulanya Nama Karimun


Nama Karimun memiliki sejarah tersendiri. Nama Karimun pada masa kini digunakan sebagai nama kabupaten dan juga pulau. Yaitu Kabupaten Karimun dan Pulau Karimun. Nama adalah doa. Begitulah pepatah mengatakan. Apakah arti dibalik nama "Karimun" ? Berikut penjelasannya.
Sama seperti kita Karimun juga punya sejarah atau asal usulnya. Asal usul nama Pulau Karimun terdiri dalam 3 versi yaitu :

Icon Karimun,
Sumber : https://www.instagram.com/harist2502/


1. Cerita Pedagang Gujarat Yang Melihat Cahaya Di Gunung Jantan


Pada zaman dahulu Selat Malaka merupakan rute jalur perdagangan kapal-kapal dagang. Seperti yang diketahui bahwa di rute tersebut para pedagang sering sekali diganggu oleh lanun/perompak dilaut, akan tetapi hal tersebut tidak terjadi di Pulau Karimun. Pulau Karimun termasuk pulau yang aman sehingga banyak pedagang dari India Selatan atau Gujarat yang singgah di pulau ini. Para pedagang dari India Selatan atau Gujarat pada umumnya berdagang permata.

Pada suatu hari, ada salah satu kapal yang melakukan perlayaran di rute Selat Malaka mengalami musibah yaitu dihantam gelombang badai, hal tersebut menyebabkan terdamparnya kapal tadi di suatu pulau yang dikemudian hari dikenal dengan nama pulau Karimun Kecil atau Karimun Anak. Didalam kapal yang terdampar tersebut ada seorang pedagang yang  bernama Sech Jalaluddin yang beragama Islam. Dikarenakan kapal yang ditumpanginya tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa dan mengalami kerusakan yang amat parah, maka beliau terpaksa bermalam di pulau tersebut. Sudah menjadi kewajiban sebagai seorang muslim untuk taat kepada Allah swt salah satunya yaitu menjaga solat 5 waktu sehari semalam. Tak terkecuali Sech Jalaluddin dan rombongan yang terdampar di pulau, apabila waktu Subuh telah tiba beliau beserta rombongan melaksanakan shalat subuh berjamaah. Setelah melaksanakan shalat subuh Sech Jalaluddin berjalan sembari mengamati alam di pulau tersebut yang diciptakan oleh Sang Maha Kuasa. Tak berapa lama, pandangannya dikejutkan oleh cahaya menakjubkan yang berwarna kuning keemasan yang muncul dari gunung di pulau tersebut. Cahaya menakjubkan tersebut belum pernah ia lihat sebelumnya. Seketika itu ia melakukan sujud syukur kemudian setelah itu ia iringi dengan mengangkat kedua tangannya berdoa dan memuji kebesaran Allah swt sembari lisannya menyebut "Ya Allah Ya Karim ( Ya Allah yang Maha Mulia)".

Pemandangan dari Gunung Jantan,
sumber : Google Maps, diambil oleh Bagus Pangkas

Itulah asal muasal nama Pulau Karimun yang diambil dari Kata Karim yang memiliki arti Mulia. Gunung yang dilihat oleh Sech Jalaluddin tersebut, oleh warga tempatan biasa disebut dengan nama Gunung Jantan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat gunung ini memiliki penjaga atau penunggu. Panglime Itam begitulah namanya. Panglime Itam memiliki istri yang menjaga Gunung Ledang yang berada di Malaysia.

Berdasarkan cerita turun temurun di masyarakat, Gunung Jantan memiliki banyak misteri yang masih belum terbukti dan terpecahkan. Konon katanya terdapat Ikan Kertang yang sangat tua dan ditubuhnya tumbuh pepohonan. Di pepohonan tersebut banyak terdapat sarang burung layang-layang atau walet. Sarang burung walet ini memiliki kualitas terbaik. Hal lain yang tak kalah menarik adalah banyak hasil bumi yang tersembunyi dibawah Gunung Jantan seperti emas dan berlian. Dikabarkan apabila ada  penelitian mengenai pasir didaerah tersebut selalu ditemui bongkahan emas. Namun harta yang terpendam tersebut, tidak boleh diambil. Menurut warga tempatan hasil bumi tersebut memiliki kekuatan gaib.

2. Cerita Pedagang Gujarat Yang Meminum Air Sumur Tawar Di Dekat Pantai


Versi berikutnya dari asal usul nama nama Pulau Karimun tak lepas dari cerita pedagang Gujarat. Pada suatu ketika kapal-kapal pedagang dari Gujarat kehabisan air, bersamaan dengan hal tersebut para pedagang sedang melewati pulau ini. Lalu berlabuhlah mereka di pulau ini. Setelah berlabuh mereka mencari sumber air tawar untuk diminum, mereka pun mencari air tawar tersebut ke berbagai tempat di pulau itu. Walaupun sudah mencari, para pedagang tersebut tidak menemukan sumber air tawar yang mereka cari. Suatu ketika, sebagian dari pedagang tersebut menemukan suatu sumur ditepi pantai. Mereka pun mengambil air dari sumur tersebut, untuk memastikan apakah airnya asin atau tidak, karena sudah hal yang wajar apabila sumur ditepi pantai memiliki air yang asin. Akan tetapi, betapa terkejutnya mereka  saat mereka minum, air tersebut rasanya tawar dan baik untuk dijadikan air minum.  Dikarenakan rasa syukur dan bahagia yang tak terkira dari pedagang-pedagang Gujarat tadi, mereka pun mengucapkan rasa syukur kepada Allah swt dengan menyebutkan "Ya Allah Ya Karim" (Ya Allah yang Maha Mulia). Dari situlah kata Karimun berasal. Berdasarkan sumber informasi yang didapat dari informan, sumur tersebut hanya bisa dapat dilihat pada saat air laut surut, sebaliknya bila air laut sedang pasang maka sumur tersebut tidak tampak. Dan berdasarkan informan tadi, bahwa sumur tersebut masih ada sampai sekarang. Sumur tersebut berada disalah satu Desa di Pulau Karimun, yaitu Desa Pongkar Kecamatan Meral*. Sedangkan menurut penuturan nenenk penulis, sumur tersebut berada di kawasan Coastal Area sekarang didekat tanjung gelam/tanjung rambut.

Coastal Area atau Tg. Gelam di Masa kini,
sumber : Google Maps, diambil oleh Hani Harahap

3. Cerita Sepasang Suami Istri Bernama Karim Dan Maimun


Pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami istri. Sang suami bernama Karim dan si istri bernama Maimun. Menurut berbagai cerita yang berkembang di masyarakat, mereka inilah orang yang pertama datang di pulau ini dan karenanya nama mereka menjadi nama pulau Karimun. Akan tetapi kebenarannya belum dapat dipastikan.

Pasar Puan Maimun,
Sumber : Google Maps, diambil oleh Ai Violan

Sepasang suami istri ini hidup bahagia, mereka juga disegani oleh masyarakat sekitar. Akan tetapi suatu hari, musibah menimpa keluarga mereka. Bahtera keluarga mereka goyah dikarenakan "aib" dari perselingkuhan sang istri. Dikarenakan kemarahan yang amat sangat dari sang suami, sehingga ia pun menjadi murka dan menggampar Maimun istrinya sehingga jatuhlah Maimun beserta anaknya ke laut. Berdasarkan cerita masyarakat diyakini bahwasanya terjadilah nama Pulau Karimun Jantan(suami), Karimun Betina (istri) dan Karimun Anak(Anaknya).

Sejarah,Asal Usul atau Asal Muasal Bermulanya Nama Kundur


Nama Kundur sudah tidak asing lagi bagi warga Provinsi Kepulauan Riau, khusunya Kabupaten Karimun. Banyak anak daerah yang sukses baik di perantauan maupun di provinsi berasal dari Pulau Kundur. Nama Kundur tidak digunakan sebagai nama pulau saja, tetapi juga digunakan untuk nama beberapa kecamatan serta juga desa. Kundur juga memiliki asal usul nama. Tidak jauh berbeda dengan Karimun, Kundur juga memiliki 3 (tiga) versi asal usul namanya. Semua cerita yang ada dapat memperkaya dan melengkapi khasanah cerita Melayu. Berikut penjelasannya :

Pulau Kundur Apabila Dilihat dari Satelit,
 sumber : Google Maps

1. Cerita Seorang Petani Buah Kundur dan Mentimun


Pada zaman dahulu hiduplah seorang petani. Ia bertanam tanaman diantaranya buah kundur dan juga timun (mentimun). Sang petani merupakan petani yang sukses dalam bercocok tanam. Suatu hari ia pulang dari kebun. Ia pulang dengan membawa serta memikul buah kundur dan mentimun. Tak disangka -sangka pikulan yang ia gunakan untuk membawa buah kundur dan mentimun patah. Buah mentimun serta buah kundur yang ia pikul pun jatuh berserakan. Dikarenakan rasa kesal yang amat sangat karena buah yang ia pikul jatuh, maka ia lemparkanlah kedua buah mentimun dan buah kundur tersebut ke laut. Dari situlah kemudian dari buah ini muncul Pulau Timun dan Pulau Kundur. Pada masa sekarang, dalam wilayah Kecamatan Kundur juga terdapat suatu desa, yang bernama sama yaitu Desa Kundur. Wilayah desa ini memanjang hingga ke ujung Barat. Yang mana sekarang lebih dikenal dengan nama Prayun, yang merupakan basis penambangan timah oleh BUMN PT. Timah. Menurut cerita masyarakat dari pulau Kundur kecil inilah asal mulanya nama Pulau Kundur Besar yang ada sekarang.

Buah Kundur,
sumber : https://www.thekitchn.com/vegetarian-recipe-winter-melon-136263

2. Cerita Masyarakat Bahwasanya Dahulu Seluruh Pulau Ditanami Buah Kundur


Sebagian masyarakat percaya pada zaman dahulu hampir seluruh wilayah ditanami buah kundur. Buah kundur tersebut ditanam dalam jumlah yang banyak serta dalam wilayah yang luas. Tujuan hal itu dilakukan adalah karena permintaan buah kundur dalam perdagangan cukup besar. Selain itu buah kundur juga memiliki rasa yang nikmat apabila diolah menjadi sayur. Maka tidak heran apabila penanaman buah kundur diusahakan hampir diseluruh wilayah di pulau tersebut. Dari situlah kemudian dikenal nama pulau tersebut dengan nama Pulau Kundur.

Sup Buah Kundur,
sumber : http://rasasayange.co.id/read/resep/20150320/sup-ayam-labu.html#

3. Cerita Masyarakat Tentang Bentuk Pulau


Pada zaman dahulu ada seorang nelayan. Suatu hari ia mengelilingi suatu pulau, dan ternyata  setelah ia mengelilingi pulau tersebut ia sadar bahwasanya bentuk pulau tersbut berbentuk buah kundur.

Nelayan Sedang Memancing,
sumber : https://www.pexels.com/photo/person-on-white-boat-fishing-on-body-of-water-1105386/

Itulah beberapa asal muasal nama Pulau Kundur, terlepas dari benar atau salahnya. Karena kita tidak tahu, kapan, siapa dan pada masa apa cerita tersebut terjadi. Akan tetapi cerita-cerita tersebut dapat memperkaya khasanah cerita rakyat Melayu.

Kota Tanjungpinang


Sejarah,Asal Usul atau Asal Muasal Bermulanya Tanjung Pinang


Tanjungpinang merupakan salah satu kota yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau. Tanjungpinang juga merupakan ibu kota dari Provinsi Kepulauan Riau. Sama seperti daerah-daerah lain di Provinsi Kepulauan Riau, Tanjung Pinang juga memiliki sejarah serta asal-muasalnya.

Dikisahkan pada zaman dahulu, bedirilah sebuah Kerajaan di Hulu Sungai Riau. Dikisahkan pula menurut sejarah pada tahun 1673 Sultan Ibrahim memerintahkan Laksamana Tun Abdul Jamil untuk membuka sebuah negeri baru bagi Kerajaan Melayu Johor di Sungai Carang.
Kerajaan Johor-Riau beberapa kali memindahkan pusat kerajaanya termasuklah di Daik, Lingga.

Icon Kota Tanjung Pinang,
Sumber : https://liandamarta.com/2017/05/19/ada-apa-di-tanjungpinang/

Kerajaan Riau berada dipuncak kejayaannya semasa Raja Haji menjadi Yang Dipertuan Muda ke IV. Menurut buku Tuhfat al-Nafis yang dikarang oleh Raja Ali Haji, dua buah istana telah dibangun pada masa Raja Haji. Istana yang pertama terletak di Pulau Biram Dewa, yang kemudian orang lebih mengenalnya dengan sebutan Kota Piring. Istana yang kedua pula diperuntukkan kepada Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud, di Pulau Galang Besar.

Dikisahkan pula pada masa itu kehidupan rakyat Riau sangatlah sejahtera dan makmur. Banyaklah para saudagar, pedagang yang datang dari berbagai negeri untuk berniaga. Rakyatnya pun dikenal sangat baik, ramah-tamah, berbudi bahasa, pandai bertenggang rasa.

Dikisahkan pula pada masa itu hiduplah seorang lelaki separuh baya. Ia memiliki seorang istri dan juga seorang anak perempuan.Anak perempuannya memiliki budi pekerti yang baik, pandai serta bijak.

Suatu ketika berkatalah sang anak kepada ayahandanya,

"Wahai Ayahanda, rasanya sudah lama kita tinggal di Hulu Sungai Riau ini. Bagaimana menurut Ayahanda jika kita mencoba bertempat tinggal di tanjung sana?"

Mendengar perkataan anak perempuannya itu terheranlah ia, ia hanya diam sembari memandang kepada istrinya.

Melihat suami diam, berkatalah istrinya,"Iyalah Bang. Kita ini pun sudah lama duduk disini. Coba-cobalah kita beralih rasa."

"Abang pun berpikir begitu juga, tapi.." jawab si suami setelah berfikir. Sesungguhnya ada suatu hal yang membuat hatinya bimbang.

"Kenapa Ayahanda? Sepertinya ada yang membimbangakan hati Ayahanda?" Tanya anak perempuannya yang bijak itu.

Ayahanda pun menjawab,"Memang benar anakku. Rasanya sayang pula hendak meninggalkan rumah yang di sini. Dari sedikit demi sedikit, hingga jadi rumah kita seperti sekarang ini. Banyak kenangannya."

"Tapi, kalau kita disini terus, tak bertambah juga pengalaman dan pengetahuan. Siapa tahu dengan kita tinggal di tanjung sana itu, hidup kita dapat lebih baik," kata si anak perempuan berusaha meyakinkan sang ayahandanya.

Setelah menimbang-menimbang beberapa waktu, akhirnya setujulah si Ayahanda. "Baiklah, jika memang ananda berkeinginan benar pindah ke tanjung sana dan ibundamu menyetujui, ayahanda pun setuju. Tapi karena telah malam, marilah kita pergi tidur." Ujar si Ayah.

Hari telah larut malam. Kedua suami istri itu pun telah terlelap. Akan tetapi, tidak dengan si anak perempuan. Ia sangat sulit untuk terlelap. Padahal hal seperti ini tidak pernah ia alami di malam-malam yang lain. Si anak perempuan itu ternyata sedang berangan-angan, apabila mereka pindah ke tanjung dan membuat sebuah rumah disana.

Tanpa terasa malam semakin larut, pada akhirnya tidur jugalah anak perempuan yang bijak itu. Dalam tidurnya ia bermimpi, ia didatangi oleh seorang tua. Orang tua itu berkata kamu bertiga boleh tinggal di tanjung tapi dengan syarat. Syaratnya adalah sebelum membuat rumah, tanamlah terlebih dahulu pokok pinang di sepanjang tanjung itu. Kelak pokok pinang itu akan menjadi jawaban dan arti tersendiri.

Itulah pesan dari mimpi yang dialami oleh si anak perempuan. Berceritalah ia esok harinya kepada ayahandanya dan juga ibundanya tentang mimpinya itu.

Seorang Ayah yang Tertidur,
Sumber : https://www.pexels.com/photo/man-adult-sleeping-asleep-13720/

"Ayahanda dan Bunda, malam tadi ananda bermimpi berjumpa dengan seorang tua. Orang tua itu berpesan kepada ananda, jika ingin bertempat tinggal di tanjung sana itu, hendaklah terlebih dahulu menanam pokok pinang di sepanjang tanjung itu." Si anak menceritakan.

Setelah mendengarkan cerita anaknya itu kedua suami istri ini pun tanpa sadar saling berpandangan.

"Bagaimanakah jika kita tidak mengikuti pesan orang tua itu, ananda?" Tanya sang Ayahanda kepada anaknya.

"Tiada pula dijelaskan jika kita tiada mengikuti pesan itu. Tapi Orang Tua dalam mimpi ananda itu mengatakan, pokok pinang itu kelak akan memberikan jawaban dan arti tersendiri." Jelas si anak perempuan kepada kedua orangtuanya.

Beberapa waktu kemudian sang ayah berfikir keras sesudah mendengarkan mimpi anaknya itu. Seakan-akan ianya ingin mengetahui jawaban yang sebenarnya tentang mimpi yang diceritakan oleh anak perempuannya yang bijaksana.

Tak berapa lama waktu berselang, berkatalah sang Ayah dengan wajah gembira lagi berseri,"Kalau begitu, Ayahanda sudah paham bahwa tempat yang bakal kita tempati itu nantinya akan menjadi sebuah tempat yang ramai."

Maka dicarilah oleh keluaga itu keesokan harinya pohon-pohon pinang yang hendak mereka bawa ke tanjung. Anak beranak itu mencari anak-anak pohon pinang atau benih pohon pinang diberbagai tempat. Ada yang di pelosok adan pula yang diambil dari tepi-tepi hutan.

Kelakuan atau tingkah laku anak beranak itu pun menjadi perhatian orang ramai dan masyarakat. Mereka yang melihat, tak dapat lagi menahan hati untuk bertanya. Pada akhirnya bertanyalah seorang penduduk itu kepada Orang Tua separuh baya itu.

"Wahai Pak Tua, beberapa hari ini kami penduduk di sini melihat Pak Tua anak beranak sibuk sangat mencari pokok pinang. Kami lihat sudah cukup banyak Pak Tua mengumpulkannya, kami ingin tahu untuk apa sebenarnya anak-anak pokong pinang itu?"

"Kami hendak menanam pokok-pokok pinang ini di tanjung sana.", jawab sang suami kepada orang yang bertanya padanya.

Penduduk lanjut bertanya, "Tanjung yang mana satu?"

"Itu...di tanjung sana... ! Kalau kita dari arah luar mau masuk ke Hulu Riau ini, disebelah kanan kita terlihat tanjung yang menjorok ke laut!" Jawab si suami sambil menunjuk ke arah tanjung. Memang pada kala itu tak dapat memang dilihat oleh mata mereka, tapi si suami menunjuk ke arah tanjung.

"Oh, di tanjung sana itu...?" ujar si penduduk.

"Benar, kami ingin menanam pokok-pokok pinang ini di sepanjang tanjung itu..." Jelas si suami pula.

"Apa pula kegunaannya?" tanya penduduk masih penasaran dengan jawaban si suami.

"Kami ingin pindah dan bertempat tinggal di tanjung sana itu." Ujar si suami.

"Tapi, Pak Tua... di tanjung sana itu, rimbanya masihlah lebat lagi, dan tiada pula orang yang tinggal disana." Ungkap para penduduk yang mencemaskan keadaan ketiga orang anak beranak itu.

Dengan penuh keyakinan didalam hati, si suami menjawab,"Tak mengapalah, kata orang belum mencoba, belum tahu. Manalah tahu tuah kita kelak, tanjung itu nantinya akan berpenghuni dan didiami oleh ramai orang."

Pohon Pinang,
Sumber : https://www.pexels.com/photo/palm-trees-under-gray-skies-1013433/

"Ya, mudah-mudahan pula akan menjadi Pekan atau Bandar. Buat sajalah yang mana baik, Pak Tua." kata para penduduk kepada si suami.

Maka tibalah waktunya, anak beranak itu untuk berangkat ke tanjung. Dimuatlah oleh mereka pokok-pokok pinang yang telah terkumpul kedalam perahu. Dan berlayarlah perahu mereka keluar dari Hulu Sungai Riau.

Tanpa terasa waktu pun berlalu, sampailah mereka anak beranak itu di tanjung. Tanjung ini masih lebat rimbanya. Mereka sampai di tanjung yang masih lebat ini menjelang petang.
Mulailah anak beranak itu menanam benih pokok-pokok pinang yang mereka bawa. Mereka menanamnya disepanjang tanjung itu, sebanyak mana benih itu dibawa sebanyak itulah ditanam.
Keluarga kecil ini mulai membuat pondok itu mereka tinggali.

Waktu terus berlalu, sedikit demi sedikit kehidupan anak beranak ini mulai berangsur membaik. Pondok mereka yang kecil sudahpun bertukar menjadi rumah yang bagus. Padahal kehidupan si orang tua hanyalah nelayan di laut. Akan tetapi, rezeki yang ia dapatkan selalu banyak dan lebih dari cukup.
Pada masa lapang, di petang hari anak beranak itu selalu bersampan di ujung tanjung itu.

"Wahai Ayahanda, lihatlah pemandangan di tanjung itu. Pemandangan dari laut sini terlihat begitu indahnya. Di sepanjang tanjung yang ditanami pokok pinang." Ujar si anak mengagumi indah pemandangan dari laut mengarah ke tanjung.

Dengan wajah berseri, si ayah menjawab,"Memang benar kata-katamu itu ananda... Ayahanda pun merasa suka tinggal di tanjung itu."

Demikianlah kerja ketiga orang anak-beranak itu, jika ada waktu terluang atau masa rehat, mereka selalu bersiar-siar dengan menggunakan sampan di depan tanjung yang telah banyak tertanam pokok pinang.

Lambaian daun-daun pokok pinang yang telah membesar di tepi tanjung menjadikan pemandangannya semakin indah apabila dilihat dari kejauhan.

Hari berganti hari, minggu demi minggu, tahun demi tahun. Tanpa terasa di tanjung itu tidak hanya ditinggali oleh anak beranak itu saja. Semakin hari semakin ramai pulalah tanjung itu. Banyak orang yang tinggal dan berkampung di tanjung itu. Bahkan sampai jauh masuk ke dalam yang mana ternyata daerahnya berbukit-bukit.

Syahdan alkisah, semakin hari semakin banyak penduduk di tanjung itu. Orang-orang tidak lagi menyebut daerah itu dengan kata tanjung saja, akan tetapi telah ditambah kata pinang.
Apabila orang bertanya, "Dari manakah, Tuan Hamba?" Maka dijawab pula, "Dari Tanjung sebelah sana yang banyak pokok pinangnya."
Atau,"Kemanakah kemanakah hajat Tuan Hamba hendak perggi?" Maka dijawab pula, "Hendak ke Tanjung yang banyak pokok pinang."
Tanjung Pinang dari Udara,
Photo by Yulia Agnis on Unsplash

Lama kelamaan hal itu pun berubah. Orang-orang menyebutnya dengan singkat saja. Yaitu Tanjung Pinang. Yang memiliki arti Tanjung yang banyak pinangnya.

Akhirnya anak beranak itu mengakui kebenaran mimpi yang pernah dialami oleh si anak perempuan. Bahwasanya tanjung ini kelak akan menjadi tempat yang ramai. Dan mungkin kelak akan menjadi bandar yang besar pula.

Keluarga itulah yang pada mulanya membuka sebuah perkampungan yang dikemudian hari berkembang pula menjadi sebuah kota, yaitu Kota Tanjung Pinang.

Demikianlah asal usul Tanjung Pinang, menurut si empunya cerita.

Selain kisah diatas masih terdapat versi yang lain dari asal mula nama Tanjung Pinang diantaranya yaitu:

a. Bahwa untuk memudahkan pelayaran ketika Hulu Riau baru dibuka sebagai pusat kerajaan, Sultan Ibrahim memerintahkan untuk memasang lampu lanteng di bukit Tanjung Buntung. Kemudian di daerah persekitaran tersebut pada waktu malam menjadi ramai dan terang oleh api-api unggun yang dipasang oleh perahu/ wangkang. Lalu orang-orang cina menyebut tempat itu dengan Api-Api Nang artinya ada api dan orang banyak.
Jadi kata Tanjungpinang berawal dari ada Tanjung dengan lampu dan orang banyak, jadilah Tanjung Api-Api Nang. Seterusnya karena perubahan ejaan atau dialeg menjadi TANJUNGPINANG.

b. Bahwa kononnya Tanjungpinang adalah nama anak kembar Raja Penyengat yaitu si Tanjung dan si Pinang

c. Bahwa kononnya zaman dahulu di Tanjung tersebut memang telah banyak ditumbuhi oleh pokok-pokok pinang.

Sumber : Seri Cerita Rakyat Kepulauan Riau 1 dan Buku Kabupaten Karimun


EmoticonEmoticon