Sejarah, Asal Usul atau Asal Muasal Tempat di Kepri Bag.3

Setelah membaca bagian I, dan bagian II para pembaca telah mengetahui sejarah, asal usul atau asal muasal daerah di Kota Batam dan  daerah di Kabupaten Karimun. Dikarenakan sejarah Moro lebih panjang maka akan dibuat postingan tersendiri.

Peta Kecamatan Moro,
Sumber : Google Maps

Moro

Moro adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Karimun. Sebelum pemekaran Moro merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Kepulauan Riau. Moro mulai masuk wilayah Kabupaten Karimun pada tanggal 12 Oktober 1999.

Kecamatan Moro pada saat ini memiliki 2 kelurahan dan 10 desa. Kantor camat Moro pada awalnya tidak berada ditempatnya sekarang, kantor camat di Moro sudah tiga kali mengalami pemindahan lokasi. Pemindahan lokasi, disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Menurut cerita masyarakat, pada awalnya orang-orang tidak mengenal Moro. Pada awalnya yang dijadikan permukiman bagi orang-orang adalah daerah sulit. Daerah Sulit, pada masa sekarang berada dalam wilayah Desa Kaban serta berbatasan dengan Pulau Sugi Atas. Nama daerah ini yang bernama "Sulit" memiliki asal-usul. Dikarenakan untuk sampai di daerah ini harus menghadapi gelombang yang sangat besar, banyak batu yang terhampar serta apabila telah tiba masa musim angin utara banyak kapal-kapal yang berlayar mengalami kecelakaan di laut. Oleh karena itu daerah ini diberi nama Sulit. Tak sampai disitu,daerah Sulit juga dikelilingi oleh pulau-pulau  yang banyak. Oleh karena itu, apabila tidak hapal atau tidak hati-hati pada lokasi daerah ini, maka kemungkinan besar akan tersesat.

Daerah Sulit pada masa itu dijadikan perkampungan dan juga lahan pertanian oleh keluarga raja. Yang menjadi amir pertama kali didaerah ini adalah Raja Husin. Beliau adalah anak dari Raja Ja'far yang Dipertuan Muda yang memerintah dan berkedudukan di Pulau Penyengat. Dengan semakin berkembangnya daerah Sulit maka mulai dibangunlah berbagai fasilitas umum dan kantor-kantor.

Keadaan laut di wilayah kepulauan tidaklah aman pada masa itu, banyak bajak laut dan lanun yang merampas dan merampok harta serta barang-barang yang dibawa oleh para pedagang yang berlayar. Oleh karenanya, pihak kerajaan membangun suatu tempat perkampungan di daerah Sulit untuk mengantisipasi para bajak laut dan lanun. Para bajak laut dan lanun ini tidaklah mudah untuk ditangkap. Mereka terkenal akan keganasannya, ketangkasannya serta ilmu kebatinan yang kuat. Tak jarang banyak dari mereka yang dapat menaklukkan dan menggagalkan orang-orang yang coba menangkap mereka.

Daerah Moro Sekarang,
Sumber : Google Maps, diambil oleh Dony Tpn

Pada suatu ketika Amir di daerah sulit yaitu Raja Husin beserta anaknya Raja Abdulrahman mencoba untuk menangkap dan menaklukkan para lanun. Dengan ber bekal ilmu yang ada, mereka berdua memasuki wilayah perkampungan para lanun. Pada saat mereka memasuki perkampungan para lanun, ketua para lanon sedang menyirat tali dengan pisau yang amat tajam. Raja Husin dan Raja Abdulrahman pun memberi salam kepada ketua lanun. Begitu selesai, ketua lanun tadi langsung melemparkan pisau yang tajam tadi ke arah Raja Husin dan Raja Abdulrahman. Akan tetapi pisau itu tidak mengenai mereka, pisau itu tertancap di benda lain yaitu dinding dibelakang mereka. Seketika itu pula ketua lanun langsung menyembah kepada Raja Husin dan Raja Abdulrahman, dan mengakui kekalahannya. Bermula dari situ, ketua lanun dan para pengikut-pengikutnya mulai takluk dan mengabdi kepada Kerajaan Riau-Lingga. Mereka akhirnya masuk ke dalam agama Islam dan diajarkan ilmu-ilmu agama Islam.

Dikarenakan jasa Raja Husin dan Raja Abdulrahman yang telah berhasil mengalahkan ketua lanun dan para pengikutnya, maka oleh Kerajaan Riau-Lingga mereka berdua menerima penghargaan bintang-bulan. Menurut informasi yang didapat dari keturunan Raja Husin dan Raja Abdulrahman, penghargaan tersebut disimpan di Kota Tanjungpinang.

Daerah Sulit yang pada awalnya menjadi pusat pemerintahan, perlahan-lahan mulai mengalami kemunduran. Hal ini dikarenakan daerah Sulit telah disumpah oleh raja mereka pada suatu peristiwa. Pada zaman dahulu dipercaya bahwa sumpahan raja adalah makbul. Sehingga setelah disumpah oleh Raja, daerah sulit perlahan-lahan ditinggalkan oleh penduduknya. Mereka pindah dengan harapan ditempat yang baru dapat mengubah nasib mereka. Dan pada akhirnya menjadi daerah yang tak berpenghuni serta daerah sumpahan.

Sumpahan raja  pada daerah Sulit dimulai dari sebuah peristiwa. Pada masa itu daerah sulit dipimpin oleh seorang raja bernama Engku Hitam. Ia memiliki seorang permaisuri yang bijak, serta berilmu tinggi. Sang permaisuri juga merupakan seorang pengarang. Dalalm beberapa waktu sekali, para panglima, alim ulama, cerdik pandai selalu berkumpul di istana. Mereka memiliki tujuan memungut uang kancing (uang kas) dan dikumpulkan secara bersama-sama didaerah sulit. Mereka pergi ke istana memakai kapal yang pada masa itu disebut sekoci.

Setelah uang tersebut terkumpul, akan dimasukkan dalam peti dan selanjutnya akan dikirimkan ke Pulau Penyengat. Waktu keberangkatan peti tersebut adalah hari kamis, dan pada hari Jumat peti sudah harus ada di Pulau Penyengat. Peti ini dikirim dan dikawal oleh panglima dan cerdik pandai melalui kapal ke Tanjungpinang dan selanjutnya ke Pulau Penyengat.

Dalam menunggu waktu keberangkatan uang kancing (uang kas) para panglima dan cerdik pandai selalu berbual( berbicara) tentang kehebatan, ketangkasan, kepintaran serta kekuatan mereka masing-masing. Setiap kali berbual, pembicaraan para panglima dan cerdik pandai didengar oleh permaisuri Engku Hitam. Timbul dalam benaknya untuk menguji ilmu para panglima dan cerdik pandai. Seperti biasa, uang yang telah dikumpul di peti dimasukkan ke dalam kapal sekoci yang nanti akan berlayar ke Tanjungpinang. Suatu ketika, saat peti uang kas hendak diangkat ke sekoci oleh panglima, ia tak dapat diangkat. Seorang demi seorang mecoba menangkat tapi tak juga peti bergerak. Bahkan hingga berpuluh-puluh orang pun tetap tak bisa. Melihat hal ini Engku Hitam menjadi cemas, ia takut peti tidak sampai tepat waktu di Pulau Penyengat. Dan ia akan dicap sebagai orang yang tidak amanah karena lalai dan tak disiplin. Akhirnya ia meminta tolong bantuan dari para lanon. Namun apa daya, peti tersebut juga tak bergerak.

Sekoci di Tepi Pantai,
Sumber : https://www.pexels.com/photo/beach-boat-dawn-dusk-244517/

Hal ini membuat gusar hati raja Engku Hitam, dikarenakan waktu keberangkatan kapal sudah semakin dekat. Melihat kekasihnya murung dan gelisah, permaisuri pun bertanya kepada Engku Hitam, "Hai kanda, kenapa gelisah? dinde lihat beberapa hari belakangan ini kande kurang  tenang, ade apekah gerangan kande?"

Engku Hitam pun menjawab, "Hai Dinde entahlah beberapa hari ini kande merasa risau atas ape yang terjadi, biasanya peti tersebut dengan mudah dapat diangkat, tetapi kali ini peti itu tidak dapat diangkat walaupun sudah berpuluh-puluh orang telah mencobanye."

"Betul ?" kata isterinye dalam nada bertanya."Betul."Jawab Engku Hitam. Kemudian setelah itu pergilah permaisuri itu ketempat dimana orang-orang berusaha mengangkat peti itu. Setelah melihat orang-orang tak bisa mengangkatnya, pergilah permaisuri menghadap Engku Hitam kemudian berucap, "Boleh kande dinde mengangkatnye, kande tak usah risau." Mendengar itu Engku Hitam menjawab,"Heh! adinde yang ndak ngangkat, adinde sendirikan orang lemah", lalu dijawab pulalah oleh permaisuri,"Belum tau, kakande belum tau walaupun perempuan ini lemah tetapi tidak mengetahui isi yang lemah." Mendengar jawaban permaisurinya, kembali dijawab oleh Engku Hitam dengan nada yang agak tinggi. Ia berkata, "Kalau begitu bukan kande yang menjadi amir yang memerintah negeri ini tetapi adindelah yang buat malu." kemudian ia pergi ke jendela pindah lagi ke jendela berikutnya dan akhirnya masuk ke kamar dan berbaring diatas peraduannya. Hendak tidur dirinya, tapi apa daya mata tak dapat dipejam. Memikirkan masalah yang belum dapat jalan keluarnya.

Permaisuri Engku Hitam memliki ilmu yang tinggi. Selain itu ia juga rajin beribadah. Puasa senin-kamis tak lepas dikerjakannya. Keesokan harinya tepat pukul 11.00 siang. Mak Inang mengopek bakek dan pinang untuk permaisuri. Dalam waktu yang hampir bersamaan permaisuri mengambil air sembahyang lalu mengerjakan sembahyang sunat, dilanjutkan dengan sembahyang fardu lalu kemudia sembahyang sunat lagi. Setelah sembahyang ia sasakan (mengusap) kedua tangan, kaki dan muka. Ia pun mengunyah sirih yang diambil Mak Inang. Ia kunyah sirih itu dengan pelan-pelan. Setelah itu ia pergi menghadap Engku Hitam dan berkata seraya memohon, "Ampun kande boleh dinde mengangkat peti kas tersebut?" Selanjutnya Engku Hitam menjawab dengan suara sedikit marah, "Nah cobelah kalau dinde sanggup mengangkatnya, berkali-kali adinde coba mengangkatnye! ha cobe! jangan-jangan peti uang kas yang angkat adinde." Permaisuri pun membalas,"Tidak kande." Ia kemudia pergi menghampiri peti besi tersebut. Kemudian ia berhenti sejenak, ia membaca kalimat serta mengusap tangan serta kakinya. Tak disangka- sangka setelah itu akhirnya peti besi yang berisi uang kas dapat diangkat oleh permaisuri. Ia dapat mengangkatnya dengan menggunakan empat jari tangannya.  Kemudian ia hantarkan peti besi itu ke sekoci, dengan mengarungi air di pantai.

Sewaktu ia mengangkat peti besi itu ke sekoci banyak dayang yang ingin membantu, akan tetapi ia tolak. Setelah itu ia menghadap Engku Hitam dan berkata,"Silahkan kande berangkat, mudah-mudahan selamat pergi selamat kembali."
Para pembesar dan panglima negeri di buat takjub dan kagum akan kehebatan sang permaisuri. "Ini orang berilmu" ungkap mereka. Selepas pulang dari mengantar uang kas, keadaan Engku Hitam tak banyak berubah. Ia masih tampak lesu, gelisah siang dan malam. Ibarat pepatah makan tak kenyang, tidur tak lena. Ia masih memiliki beban pikiran yang mengganjal. Terkadang ia melamun di jendela, terkadang ia berbaring di tempat peraduannya. Melihat kekasih hatinya gelisah, membuat hati permaisurinya juga gelisah. 

Suatu hari, pada saat Engku Hitam sedang berbaring. Sang permaisuri bertanya kepada Engku Hitam, hal apa yang membuat Engku Hitam menjadi lesu dan gelisah siang dan malam.
"Kenape kakande? Dinde perhatikan kande selalu gelisah, biasanye tidak seperti ini. Ada apekah kande?" tanya permaisuri pada Engku Hitam.
"Ade." jawab Engku Hitam. Ia menyuruh permaisuri untuk duduk dan melanjutkan pembicaraan.
"Kande hendak bertanye kepada adinde! Kenape adinde mau sekali memberi malu kande! lanjut Engku Hitam.Sontak hal tersebut membuat permaisuri terkejut serta tersinggung oleh perkataan Engku Hitam itu.
"Mohon ampun menjunjung dibawah duli. adinde tidak berniat memberi malu kande, cuma adinde merase kurang sedap atas pembicaraan panglime dan pembesar kerajaan yang selalu bangga dengan kemampuannya masing-masing seperti kegagahan, keberanian, kekuasaan yang mereka miliki. Seharusnya mereka tau letak kegagahan, keberanian, dan kepintaran tersebut" ungkap permaisuri. Belum selesai permaisuri bercerita ia tela disela oleh Engku Hitam.
"Jadi maksud dind? maksud dinde ada sebabnye." kata Engku Hitam. Lalu ia melanjutkan, " Jadi sebabnya menderhake memberi malu kakande! sepantasnya adindelah menjadi raja atau suami." Ia mengatakan itu dengan intonasi kata yang agak meninggi dan menutup pembicaraan dengan istrinya itu.

Tak lama selang beberapa hari dan tanpa diduga-duga Engku Hitam memanggil permaisurinya dihalaman istana. Kebetulan pada waktu itu juga hadir rakyat di tempat itu. Masih di halaman istana, disalah satu sisinya para dayang sedang menganyam tikar menggunakan besi panjang. Ketika sang permaisuri datang ke halaman istana, disambut oleh perkataan Engku Hitam.
"Adinde kalau memang adinde kuat dapat mengalahkan raje dan panglime, coba adinde terai (seraya memegang sebatang besi panjang yang diambil dari dayang penganyam tikar) besi ini lurus coba dinde bengkokkan." tantang Engku Hitam.
"Eh.. eh.. maksud kande menguji atau menyuruh sungguh-sungguh?" tanya sang permaisuri.
"Betul. Kande henda melihat kegagahan maupun kebijakan adinde." jawab Engku Hitam.
Tanpa berkomentar panjang lebar, ia ambil besi tersebut dari tangan suaminya. Kemudian, ia usut-susut besi itu. Sampai susutan yang ketiga kalinya, besi tersebut ia lengkungkan dan menjadi bengkok membetuk lingkaran lah besi itu olehnya.
"Besi ini sudah bengkok, sekarang maksud kande ape lagi?" lanjutnya isterinya dengan suara agak menantang sambail bergurau.
Ia berkata demikian karena ia tak mau diremehkan kemampuannya.
"Sekaran kakande minta ini barang diluruskan lagi." jawab Engku Hitam seraya menunjuk kepada besi yang telah bengkok tadi.
Tak memakan waktu yang lame bagi permaisuri untuk merubah besi tadi kebentuk semula. Ia susut kembali besi lalu ditarik memanjang dan luruslah ia seperti semula. Engku Hitam masih penasaran dan ada rasa tidak puas terhadap ilmu yang dimiliki permaisurinya. Maka diadakanlah pertandingan kedua, pertarungan kedua adalah adu tenaga melalui tangan. Biase disebut dengan nama semance. Pada akhirnya di pertandingan ini pun Engku Hitam kalah, ia menjerit kesakitan. Tangan seorang raja terpekik berhadapan dengan tangan permaisurinya yang halus lembut bak pisau diraut. Meskipun menang permaisuri langsung mengaturkan sembah dibawah duli. Tak terima dengan kekalahnnya, Engku Hitam kembali menantang permaisuri. Kali ini Engku Hitam menantang silat menggunakan keris Sampurna Riau. Keduanya bukanlah pula orang sembarangan. Pertandingan kedua orang dengan ilmu tinggi ini, diadakan di halaman istana.

Berlatih Silat
Sumber : https://pixabay.com/en/silat-temple-barong-sport-martial-2477928/

Tibalah masanya untuk kedua suami istri ini melakukan adu tanding silat. Tak lama berselang, ada kesempatan bagi Engku Hitam untuk menghunus kerisnya kepada permaisuri. Akan tetapi tanpa disangka-sangka pula, permaisuri dapat menepisnya. Hingga terpentalah keris Engku Hitam. Permaisuri langsung bersujud sembah, memohon ampun kepada Engku Hitam karena telah mendurhaka suami yang telah ia kalahkan. Engku Hitam diam membisu sejenak seraya berpikir. Ia pun berkata, "ini ilmu tak boleh diturunkan kepada anak cucu, mungkin-mungkin ianye mendurhake". Dengan diucapkan sepatah kata darinya menandakan berakhirpulalah pertandingan dua orang suami isteri itu di halaman istana. Tak terasa sebulan telah berlalu, Engku Hitam berkata kepada permaisurinya," Adinde mungkin pulau Sulit ini akan kakande tinggal, pulau ini nantinya menjadi hutan menjadi rimbelah ditinggal penghuninya".

Maka pergilah Engku Hitam dari daerah sulit. Padahal masa jabatannya sebagai amir masih adalah tersisa. Sebelum pergi ia melempar keris di Gunung Sulit dalam kolam yang berombak. Pada saat melempar ia berkata," Siape yang dapat mengangkat keris ini dari kolam maka sejarah sulit akan terulang kembali". Menurut cerita Engku Hitam pergi ke Tokyo dan meninggal disana.

Waktu demi waktu terus berjalan, sedikit demi sedikit para penduduk daerah sulit mulai meninggalkannya. Hingga sekarang bekas dan tapak Kerajaan Sulit masih dapat dilihat disana. Seperti pantai dimana permaisuri Engku Hitam mengangkat besi lalu dimasukkan kedalam sekoci, tapak bekas istana, serta busut bekas tiang bendera.

Akhirnya dibukalah daerah baru sebagai perkampungan, dipilihlah sebuah hutan yang terletak di Pulau Sebene (Moro). Pada awalnya hendak dibuka perkampungan didaerah Bukit Segayong di Pulau Sebene ini. Yang membukanya adalah seorang ulama. Akan tetapi, ajal siapa yang tahu. Belum sempat ulama itu membuka kawasan hutan untuk menjadi perkampungan, ia meninggal dunia. Lalu selanjutnya ulama yang kedua juga hendak melakukan apa yang dilakukan ulama yang pertama. Tetapi, ia juga bernasib sama begitu pula ulama ketiga dan seterusnya. Menjelang tujuh hari mereka pada umumnya akan meninggal dunia. Menurut cerita masyarakat, konon di Bukit Segayong ade pusake. Ienye berbentuk ular besar yang dimana sudah ratusan tahun hidupnya.
Ilustrasi Ular Raksasa
Sumber : Photo by David Clode on Unsplash

Pada suatu hari, Raja Husin berkehendak ingin membuka perkampungan dengan menebasa hutan. Maka, diberanikanlah dirinya mendekati daerah tersebut yaitu Bukit Segayong. Sebelum ianya pergi menebas hutan, ia berpuasa dan sembahyang khusus diniatkannya. Setelah itu diadakanlah bersih kampung dengan peralatan seperti bedak, lange, kasai limau, ditempat tersebut. Selanjutnya, maka baru Raja Husin dapat berhubungan dengan penunggu Bukit Segayong. Mereka berdialog dalam bahasa arab. Raja Husin menyampaikan bahwasanya ia hendak memindahkan penunggu Bukit Segayong ke tempat lain karena didaerah itu akan dibuka suatu perkampungan. Ia setuju untuk dipindahkan, akan tetapi ianya meminta syarat pada Raja Husin. Ia minta diadakan upacara menyemah dengan mengorbankan kepala budak. Akhirnya setelah semua syarat dilaksanakan maka dipindahkanlah penunggu bukit tersebut ke sebuah pulau yang disebut Batu Berlobang. Setelah upacara dilaksanakan mulailah Bukit Segayong dibersihkan untuk dijadikan perkampungan. Berdasarkan syarat yang diminta, akhirnya Raja Husin berfikir. Apabila upacara menyemah tiap tahun dilakukan dengan mengorbankan kepala budak, bagaimana dengan keturunannya. Kelak dia akan dianggap sebagai penjahat (penebok).

Dengan demikian, Raja Husin mengadakan lagi negosiasi dengan penunggu tersebut. Raja Husin meminta agar syaratnya sedikit diringankan. Akhirnya disepakati bahwasanya syarat yang dikorbankan adalah lembu putih untuk menggantikan kepala budak. Semenjak itulah lembu yang dijadikan syarat. Setiap tahun lembih disembelih dengan cara Islam, kepalanya disemahkan kepada penunggu dan dagingnya dibagi-bagikan kepada rakyat. Tak terasa tujuh tahun telah berlalu. Setiap tahun berturut-turut disembelihlah sapi. Kemudia Raja Husin berfikir bahwasanya anak cucu cicitnya kelak takkan semudah dirinya dalam menemukan Lembu putih. Maka ia menemui penunggu lagi untuk negosiasi tentang masalah sesembahan tersebut. Maka digantilah dengan kambing putih. Kemudian setelah tujuh tahun begitu juga. Raja Husin kembali bernegosiasi dengan penunggu. Dan digantilah dengan ayam putih. Namun kemudian ayam putih ini pun diganti dengan ayam biasa. Menurut cerita masyarakat keturunan Raja Husin sampai hari ini masih melakukan semah di Bukit Segayong menggunakan ayam biasa. Begitulah awal mula dibukanya perkampungan di Pulau Sebene. Tak butuh waktu lama bagi kampung kecil ini menjadi kampung yang ramai. Kemudian dibangunlah beberapa kantor sebagai pusat ibu kota kecamatan. Kantor Camat di bangun tepat di pohon kamboja. Menurut informasi, pohon kamboja ini unik. Ia tidak mati walaupun umurnya sudah puluhan tahun. Sedangkan daerah Seroja merupakan bekas kantor polisi. Dengan semakin berkembangnya daerah tersebut muncul pulalah kampung-kampung yang baru. Kampung-kampung itu antara lain, Kampung Bedan, Kampung Suak(Kampung Tengah sekarang), Kampung Benteng, Kampung Batu Ampa, serta Kampung Ujung Mukah. Setiap kampung memiliki sejarah tersendiri tentang namanya. Kampung Bedan dinamai seperti itu karena dahulu tinggal beberapa orang bidan disini. Sedangkan untuk Kampung Benteng, dikatakan zaman dahulu ada benturan antara orang otch dan orang Melayu yang dimana benturan ini dimenangkan oleh mereka yang tinggal di daerah Benteng, maka dinamailah Kampung Benteng. Lalu, dikatakan Batu Ampa karena banyak batu yang terhampar dan berserakan di daerah ini. Dan terakhir Kampung Ujung karena ialah kampung yang letaknya paling ujung.

Dengan semakin berkembangnya kampung-kampung baru tersebut, maka dipindahkanlah Kantor Camat yang terletak di atas Bukit Segayong. Hal ini dilakukan karena letaknya yang sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan kota. Maka dipindahkanlah Kantor Camat ke Kampung Tengah. Jadi kantor camat yang sekarang telah mengalami perpindahan lokasi tiga kali. Dahulu daerah  Moro disebut Pulau Sebene. Ada juga sebagian menyebutnya Menene. Tak diketahui secara pasti pula sejak bila Pulau ini dipanggil Pulau Moro.

Kantor Camat Moro Sekarang
Sumber : Google Maps, diambil oleh Swayal Radiansyah

Tetapi dapat dipastikan, nama Moro berasal dari nama pulau di depan Pulau Sebene yaitu Pulau Moro. Dikisahkan pada zaman dahulu Pulau Sebene dan Pulau Moro sekarang merupakan satu daratan. Dikatakan bila surut mereka berjalan kaki, apabila pasang mereka menaiki sampan. Hingga suatu ketika kedua pulau ini retak. Awalnya hanya sejengkal, sehaste dan bertambah besar hingga akhirnya hanyut dan pada akhirnya bertambah jauh pula. Lautnya pun kian dalam. Dan lautnya bisa dilalui kapal-kapal besar yang hilir mudik dari kota-kota sekitarnya.

Pulau Moro sendiri memiliki kisah tersendiri. Dikisahkan pada zaman Kerajaan Malaka. Menghadaplah sang putra mahkota menyampaikan hajat kepa ayahandanya Raja Malaka. Adapun hajatnya, untuk berkunjuk kepada sanak famili, serta rekan-rekan yang berada di daerah Indragiri. Mereka mengambil rute berlayar antara Selat Malaka dan Selat Karimun. Sungguh malang nasib mereka, air untuk perbekalan habis. Maka berhentilah kapal dan berlabuh diantara Pulau Perisai Terumbu Laut (berada di wilayah Kecamatan Moro) atas perintah putera mahkota. Tujuan mereka ialah mencari air untuk perbekalan. Putera Mahkota hendak juga ikut turun mencari air pada mulanya. Kemudian turunlah hulu balang ke daratan untuk mencari air. Yang pertama turun ialah hulubalang Salim namanya. Maka mencari air lah dirinya, setelah beberapa waktu ia berkeliling tetapi tidak menemukan apa yang ia cari. Lalu tugas mencari air ini digantikan pula oleh hulubalang Saher dengan tujuan yang sama yaitu pergi ke Pulau Selintas Arus Tengah.

Namun nasib belum berpihak kepada mereka. Mereka masih belum menemukan apa yang mereka cari. Pada akhirnya mereka turun bersama-sama yaitu putera mahkota dan kedua hulubalang. Mereka mencari air di tempat yang berbeda  yaitu Kepulauan Selintang Arus Darat (di Pulau Moro). Sesampai di pulau mereka berpencar dalam mencari air. Selang berapa waktu berlarilah hulubalang Saher ke arah putera mahkota. Ia datang dengan wajah yang pucat pasi, gemetar serta bercakap teresendat-sendat layaknya orang bisu.

Saher berkata dengan tersendat-sendat,"tu -  tuanku - kita - me - meroh".
Kemudian putera mahkota mencoba menenangkan.
Ia berkata,"ade ape Saher? Diam-diam dulu jangan tergopo-gopo hendak becakap, engkauini macam orang bisu saje".
Akhirnya setelah tenang ia bercerita bahwasanya ia telah menemukan harta berupa emas dan berlian dalam tempayan. Selanjutnya pergilah putera mahkota dan hulubalang ke tempat itu lalu membawanya kedalam kapal. Pada saat mengambilnya putera mahkota berkata,"kita meroh - kita meroh". Setelah membawa semuanya kedalam kapal mereka beristirahat sejenak. Harta itu diperkirakan oleh putera mahkota adalah harta rampasan milik para lanon yang disimpan di pulau tersebut. Saat istirahat tergerak hatinya untuk menamai Pulau itu dengan nama "Pulau Meroh" yang berarti mewah atau banyak.
Harta Karun
Sumber : https://pixabay.com/en/treasure-treasure-chest-euro-coins-76214/

Singkat cerita, putra mahkota dan hulubalang Saher turun kembali ke pulau untuk mencari air. Akhirnya mereka berjumpa dengan penduduk pulau tersebut. Dan pada akhirnya mereka berkunjung ke rumah Bathen Kader. Putera mahkota bercerita tentang perjalanan mereka, mulai dari mencari air hingga menemukan harta berupa emas dan berlian. Putera mahkota juga berwasiat, agar nama pulau ini diganti dengan nama Pulau Meroh. Begitu pula dengan nama tanjung tempat dijumpai harta itu dengan nama Tanjung Bisu.

Kemudian setelah itu daerah Selintang Arus Laut dan Selintang Arus Tengah diganti Tanjung Salim dan Tanjung Saher. Hal ini dikarenakan mereka yang menginjakkan kaki di tempat itu. Setelah menyampaikan wasiatnya, dilemparkan perisainya(mahkotanya) oleh putra mahkota ke laut. Hal ini ia lakukan sebagai hadiah pada pulau tempat dijumpai harta tersebut. Pada akhirnya putra mahkota kembali ke Malaka dan tidak jadi pergi ke tujuan awal. Ia takut apabila melanjutkan perjalanan ia dan rombongan akan dihadang oleh para lanon yang berkeliaran di daerah tersebut.

Sumber : Buku Kabupaten Karimun


EmoticonEmoticon