Monday, 21 October 2019

Gurindam Dua Belas, Karya Sastra Tanah Melayu

Gurindam Dua Belas merupakan salah satu karya yang fenomenal yang tak lekang oleh zaman, khusunya di masyarakat Melayu kepulauan. Ianya di gubah oleh seorang sastrawan yang juga ulama yaitu Raja Ali Haji.


gurindam-dua-belas-Raja-ali-haji
Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji. (https://kelasmayaku.wordpress.com/)

Raja Ali Haji menciptakan karya ini dikarenakan pada zaman ia hidup, ia merasa bersusah hati terhadap kondisi masyarakat Melayu Kerajaan Riau-Lingga yang mulai tergerus nilai-nilai agama serta budaya Islam, yang selama ini telah menjadi pegangan masyarakat Melayu.


Sultan Mahmud Syah di Istana Lingga
Sultan Mahmud Syah di Istana Lingga. (Melayu Online)

Melalui karya ini beliau berusaha agar kehidupan masyarakat melayu Kerajaan Riau-Lingga kembali kepada agama dan adat-istiadat yang bernafaskan Islam. Gurindam ini mengandung banyak nilai agama, pendidikan, sosial, moral serta seni. Ianya dinamakan Gurindam Dua Belas karena memiliki dua belas pasal. Ianya merupakan karya sastra yang unik karena mampu tegak tanpa kawan. Gurindam Dua Belas merupakan sarana bagi Raja Ali Haji untuk menyiarkan ajaran serta tuntunan moral berdasarkan syiar Islam.

Mesjid Sultan Riau
Mesjid Sultan Riau di masa kini.  http://keprikita.blogspot.co.id/

Biografi Singkat Raja Ali Haji


Raja Ali Haji memiliki nama lengkap Raja Ali al-Hajj ibni Raja Ahmad al-Hajj ibni Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali ibni Engku Haji Ahmad Riau. Beliau dilahirkan pada tahun 1808 M di pusat Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat (kini masuk dalam wilayah Kepulauan Riau, Indonesia).
Waktu kapan beliau wafat, banyak terdapat perdebatan tapi diperkirakan ia meninggal pada tahun 1873 di Pulau Penyengat.
Makam Raja Ali Haji berada di komplek pemakaman Engku Putri Raja Hamidah di Pulau Penyengat. Karya Raja Ali Haji, yaitu Gurindam Dua Belas diabadikan di sepanjang dinding bangunan makamnya.


Raja Ali Haji
Raja Ali Haji (wikiwand)


Raja Ali Haji mendapat pendidikan dari ayahnya dan juga dari lingkungan istana Kesulatanan Riau-Lingga di PUlau Penyengat. Pada masa itu banyak ulama yang datang kesana karena pada masa itu Kesultanan Riau-Lingga merupaakn pusat kebudayaan Melayu yang berfokus pada perkembangan ilmu agama, bahasa dan juga sastra. Banyak ulama yang datang kesana untuk tujuan mengajar sekaligus belajar. Ulama-ulama yang dimaksud antara lain Habib syeikh as-Saqaf, Syeikh Ahmad Jabarti, Syeikh ISmail bin Abdullah al-Minkabawi, Syeikh Abdul Ghafur bin Abbas al-Manduri dan masih banyak lagi.

Mesjid Penyengat Zaman Dahulu
Mesjid Penyengat Zaman Dahulu. http://www.rajaalihaji.com


Pada tahun 1822, ia bersama rombongan ayahnya pergi ke Betawi. Beliau menggunakan momen ini untuk belajar. Beliau juga pergi melaksanakan ibadah haji pada tahun 1828 bersama rombongan ayahnya. Selama di Mekkah beliau belajar kepada Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani.

Sejarah Gurindam Dua Belas


Gurindam merupakan suatu bentuk dari puisi lama, ianya terdiri dari dua buah bait, tiap baitnya terdiri dari 2 baris kalimat dengan rima yang sama, dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Gurindam karya Raja Ali Haji dinamakan Gurindam Dua Belas, karena memiliki dua belas pasal.

Pada abad ke 7, penyebaran agama dan budaya Islam sangat memberikan dampak besar dalam mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat Melayu yang bercorak Islam. Hal ini melatarbelakangi munculnya Gurindam Dua Belas. Ketika Kerajaan Melayu Riau-Lingga menjadi pusat pengembangan agama Islam di Asia Tenggara, citra kehidupan masyarakat Melayu yang bernafaskan Islam semakin mengemuka dan mengokohkan eksistensi Islam sebagai fondasi masyarakat dan Kerajaan Melayu Riau-Lingga.

Ketika Melaka dikuasai Portugis serta masuknya Belanda serta Inggris menimbulkan konflik internal di kerajaan-kerajaan Melayu termasuk Kerajaan Riau Lingga. Perlahan-lahan kondisi sosial dan keagamaan masyarakat Melayu terjadi pergeseran. Dari kondisi yang agamis bernafaskan Islam menjadi berbudaya penjajah dan jauh dari nilai-nilai Islam. Hal ini terjadi pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Muzaffar Syah (1834-1857) dan pemerintahan dijalankan oleh Yang Dipertuan Muda Raja Abdullah. Masyarakat Melayu banyak melakukan  berbagai hal yang bertentangan dengan syariat Islam. Hal itu juga terjadi di istana, dimana hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Replika Istana Kesultanan Melaka
Replika Istana Kesultanan Melaka. Google Maps

Hal yang terjadi di masyarakat dan istana inilah yang membuat Raja Ali Haji merasa sedih dan prihatin. Tekanan penjajah, konflik internal kerajaan serta jauhnya masyarakat dari budaya-budaya non Islam mendorong beliau untuk mencipatakan Gurindam Dua Belas. Ianya selesai ditulis pada tanggal 23 Rajab tahun 1263 Masehi atau 1846 Masehi.

Melalui Gurindam Dua Belas ini beliau ingin agar agama dan budaya yang bernafaskan Islam kembali dalam kehidupan masyarakat Melayu Kerajaan Riau Lingga. Selain itu ianya juga sebagai tanggung jawab moral beliau untuk memelihara dan mempertahankan eksistensi agama dan budaya Islam yang ada pada tanah Melayu.

Benteng Portugis di Melaka
Benteng Portugis di Melaka. Google Maps


Kerajaan Melayu Riau-Lingga menyambut baik atas kreativitas Raja Ali Haji. Ianya dijadikan bahan pengajaran serta disiarkan keseluruh masyarakat Melayu diberbagai lembaga pendidikan, sosial dan juga kegiatan keagamaan. Para ulama dan cendekiawan kerajaan yang dipimpin oleh Raja Ali Haji terus mensiarkan Gurindam Dua Belas.

Namun dalam perkembangannya Gurindam Dua Belas mengalami tantangan dalam penyebarannya. Yaitu dikarenakan adanya tekanan dari Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1960-an. Partai ini sangat anti terhadap seni budaya, sastra, moral, peradaban, nasionalis yang benuansa agama khussunya Islam. Maka PKI dengan segala caranya berupaya untuk menenggelamkannya. Faktor lain adalah bahasa yang digunakan merupakan bahasa Melayu klasik/kuno dan juga dalam karya sastra ini mengandung bahasa kiasan, metafora yang sulit dipahami masyarakat awam. Sehingga masyarakat cenderung tidak berminat terhadap Gurindam Dua Belas.

Gurindam Dua Belas
Gurindam Dua Belas. http://amriilmma.blogspot.com


Namun, pada tahun 2009 Pemerintah Kota TanjungPinang melakukan kegiatan yang bertajuk "Penafsiran dan Penjelasan Kata-Kata Klasik Gurindam Dua Belas" . Dengan tujuan agar bahasa yang ada pada Gurindam Dua Belas mudah dimengerti oleh masyarakat dan pelajar. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari masyarakat terutama para budayawan serta pendidik Kota Tanjungpinang. Dan hingga kini Gurindam Dua Belas masuk dalam materi pelajaran siswa-siswa.


Asal daerah Gurindam Dua Belas


Gurindam Dua Belas ditulis dan diselesaikan di Pulau Penyengat pada tanggal 23 Rajab 1264 Hijriah atau 1847 Masehi oleh Raja Ali Haji yang berusia 38 tahun. Pulau Penyengat pada masa kini berada di wilayah administrasi Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.
 

Ciri-ciri Gurindam Dua Belas


Pengertian gurindam sendiri telah tertera pada bagian mukadimah. Yaitu berbunyi :

      Adapun arti gurindam
      Adalah perkataan bersajak
      Pada akhir pasangannya
      Sempurna perkataannya
      Dengan satu pasangannya sajak pertama isyarat,
      Sajak ke dua jawababannya
      Persimpanagan yang indah-indah
      Yaitu ilmu yang memberi faedah
      Aku hendak bertutur
      Akan gurindam yang teratur

Gurindam memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu:


Rangkap


Gurindam memiliki dua atau beberapa baris dalam satu bait. Tiap-tiap barisnya memiliki isi atau maksud dan bersambung dengan baris rangkap selanjutnya, sehingga membentuk satu makna yang lengkap. Baris pertama berisi syarat dan baris kedua berisi jawaban dari "syarat" baris pertama.

Perkataan dan Suku Kata

Jumlah kata-kata tiap baris dan suku kata tidak terbatas.


Isi dan Makna yang terkandung pada setiap pasal Gurindam Dua Belas



Pasal Satu


Ini Gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat

Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.

Makna Yang Terkandung Dalam Pasal Pertama


• Barang siapa tiada memegang agama
• Sekali-kali tiada boleh dibilang nama
Maksudnya adalah setiap manusia harus memiliki agama karena agama sangat penting bagi kehidupan manusia, orang yang tidak mempunyai agama akan buta arah menjalankan hidupnya.

• Barang siapa mengenal yang empat
• Maka yaitulah orang yang ma’rifat
Untuk mencapai kesempurnaan didalam menjalani hidup, manusia harus mengenal empat zat yang menjadikan manusia mula-mula. 4 tersebut adalah syari’at, tarikat, hakikat dan makrifat.

• Barang siapa mengenal Allah SWT
• Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah
Orang yang beriman kepada Allah SWT, harus melakukan perintah Allah dan menjauhi segala hal yang dilarangan-Nya, serta tidak akan melanggar aturannya dalam menjalani kehidupan ini.

• Barang siapa mengenal diri
• Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri
Orang yang tidak beragama tidak akan memiliki identitas diri dan tidak akan dekat kepada Allah SWT.

• Barang siapa mengenal dunia
• Tahulah ia barang yang terpedaya
Bagi mereka yang mengetahui bahwa dunia hanya persinggahan sementara dan fana sebelum menuju akhirat, takkan terperdaya oleh dunia. Kita dapat mengetahui kebesaran Allah lewat manusia, makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Manusia yang berorientasi pada kebahagiaan atau hanya mencari kebahagiaan di dunia saja, sebenarnya ia akan tertipu dan menyadarinya bahwa di dunia itu hanya sesaat.

• Barang siapa mengenal akhirat
• Tahulah ia dunia mudharat
Di dunia ini kita hanya hidup sesaat, setelah kita wafat setiap manusia akan dimintakan pertanggung jawabannya di akhirat nanti.

Pasal Dua


Ini Gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.

Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa.

Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat.

Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.

 

Makna Yang Terkandung dalam Pasal Kedua

“ menceritakan tentang orang – orang yang meninggalkan Sembahyang, Puasa, Zakat, dan Haji beserta akibatnya”.

• Barang siapa mengenal yang tersebut
• Tahulah ia makna takut
Semakin seorang dekat dan mengetahui tentang agamanya yaitu Islam pasti manusia tersebut akan takut dan orang tersebut harus menjalani Perintah-perintah-Nya dan wajib kita laksanakan. Dan semakin bertaqwa.

• Barang siapa meninggalkan sembah yang
• Seperti rumah tiada bertiang
Orang yang tidak sembahyang bagaikan rumah yang tidak mempunyai tiang, shalat merupakan pegangan hidup.

• Barang siapa meninggalkan puasa
• Tidaklah mendapat dua termasa
Orang yang meninggalkan ibadah puasa akan kehilangan dunia dan akhirat, berarti Allah tidak akan menjaga orang itu.

• Barang siapa meninggalkan zakat
• Tiadalah hartanya beroleh berkat
Harta dari orang yang tidak membayar zakat tidak diridhai oleh Allah. Itupun jika di dunia hidupnya senang apabila tidak memberikan sebagian harta nya maka, hidupnya tidak akan terasa senang.

• Barang siapa meninggalkan haji
• Tiadalah ia menyempurnakan janji
Orang yang tidak naik haji (apalagi jika ia mampu) tidak menyempurnakan janjinya sebagai orang Islam.

Pasal Tiga


Ini Gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.

Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadaiah damping.

Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.

Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.

Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat.

Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjaian yang membawa rugi.

Makna yang terkandung dalam Pasal Ketiga

“ tentang budi pekerti, yaitu menahan kata-kata yang tidak perlu dan makan seperlunya ”

• Apabila terpelihara mata
• Sedikitlah cita-cita
Mata harus di pergunakan sebaik-baiknya jangan sampai kita meliahat apa yang dilarang oleh allah swt.

• Apabila terpelihara kuping
• Khabar yang jahat tiadalah damping
Telinga harus dijauhkan dari segala macam bentuk gunjingan dan hasutan.

• Apabila terpelihara lidah
• Niscaya dapat daripadanya faedah
Orang yang menjaga omongannya akan mendapatkan manfaat.

• Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
• Daripada segala berat dan ringan
Jangan mengambil barang yang bukan hak kita.

• Apabila perut terlalu penuh
• Keluarlah fi’il yang tidak senonoh
Nafsu harus dijaga supaya tidak melakukan perbuatan yang dilarang.

• Anggota tengah hendaklah ingat
• Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hidup harus dijalani penuh semangat.

• Hendaklah peliharakan kaki
• Daripada berjalan yang membawa rugi
Jangan merugikan diri dengan melakukan hal-hal yang mubajir dan maksiat. Melangkahlah dijalan yang benar dan di ridhoi.


Pasal Empat


Ini Gurindam pasal yang keempat:
Hati itu kerajaan di daiam tubuh,
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.

Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir.

Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.

Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung.

Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka.

Bakhil jangan diberi singgah.
Itulah perampok yang amat gagah.

Barang siapa yang sudah besar.
Janganlah kelakuannya membuat kasar.

Barang siapa perkataan kotor.
Mulutnya itu umpama ketor.

Di mana tahu salah diri.
Jika tidak orang lain yang berperi.


Makna yang terkandung dalam Pasal Keempat

“tentang tabiat yang mulia, yang muncul dari hati (nurani) dan akal pikiran (budi) ”

• Hati itu kerajaan di dalam tubuh
• Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh
Jagalah hati dari perbuatan yang di larang oleh agama.

• Apabila dengki sudah bertanah
• Datanglah daripadanya beberapa anak panah
Hati yang dengki hanya akan merugikan diri sendiri.

• Mengumpat dam memuji hendaklah pikir
• Di situlah banyak orang yang tergelincir
Berbicara harus dipikir supaya tidak celaka karenanya.

• Pekerjaan marah jangan dibela
• Nanti hilang akal di kepala
Amarah adalah perbuatan sia-sia, jaga lah amarah kita.

• Jika sedikitpun berbuat bohong
• Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung
Orang yang pernah berbohong, sedikit apa pun dustanya, akan terus tampak di mata orang lain.

• Tanda orang yang amat celaka
• Aib dirinya tiada ia sangka
Orang yang paling celaka adalah orang yang tidak menyadari kesalahannya sendiri sampai harus dikatakan oleh orang lain.

• Bakhil jangan diberi singgah
• Itulah perompak yang amat gagah
Bakhil artinya kikir, lokek atau pelit. Sifat ini jangan dibiarkan tumbuh dan berkembang di dalam diri kita. Karena ianya justru merugikan kita. Sifat pelit akan menguras hartanya sendiri, berarti dengan menjadi dermawan justru harta kita akan bertambah.

• Barang siapa yang sudah besar
• Janganlah kelakuannya membuat kasar
Jagalah setiap perbuatan kita.

• Barang siapa perkataan kotor
• Mulutnya itu umpama ketor
Kelakuan dan kata-kata hendaklah selalu halus dan bersih.

• Di manakah salah diri
• Jika tidak orang lain yang berperi
Jika kita berbuat kesalahan kita harus minta maaf.

• Pekerjaan takbur jangan direpih
• Sebelum mati didapat juga sepih
Jangan mengambil pekerjaan yang haram


Pasal Lima


Ini Gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenai orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa,

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia.

Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.

Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.


Makna yang Terkandung dalam Pasal Kelima

“tentang pentingnya pendidikan dan memperluas pergaulan dengan kaum terpelajar ”

• Jika hendak mengenal orang berbangsa
• Lihat kepada budi dan bahasa
Orang yang mulia dan berbangsa dapat kita lihat dari perilaku dan tutur katanya.

• Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
• Sangat memeliharakan yang sia-sia
Orang yang bahagia adalah orang yang berhemat dan tidak melakukan perbuatan yang sia-sia.

• Jika hendak mengenal orang mulia
• Lihatlah kepada kelakuan dia
Untuk mengetahui apakah orang itu mulia maka lihatlah sikapnya.

• Jika hendak mengenal orang yang berilmu
• Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Orang yang pandai tidak pernah jemu untuk belajar dan memetik pelajaran dari hidupnya di dunia.

• Jika hendak mengenal orang yang berakal
• Di dalam dunia mengambil bekal
Orang yang berakal adalah orang yang teleh mempersipkan bekal waktu hidp di dunia ini.

• Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
• Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai
Jika ingin mengetahui sift baik dari seseorang maka lihatlah saat di bergaul dengan masyarakat.

Pasal Enam


Ini Gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
Yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh dimenyerahkan diri.

Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan.

Cahari olehmu akan ‘abdi,
Yang ada baik sedikit budi,



Makna Yang Terkandung dalam Pasal Keenam

“tentang pergaulan, yang menyarankan untuk mencari sahabat yang baik, demikian pula guru sejati yang dapat mengajarkan mana yang baik dan buruk”

• Cahari olehmu akan sahabat
• Yang boleh dijadikan obat
Sahabat yang setia dan dapat membantu kita.

• Cahari olehmu akan guru
• Yang boleh tahukan tiap seteru
Carilah guru yang serba tahu dan tidak menyembunyikan hal-hal buruk.

• Cahari olehmu akan isteri
• Yang boleh menyerahkan diri
Istri yang patut diambil adalah istri yang berbakti.

• Cahari olehmu akan kawan
• Pilih segala orang yang setiawan
Carilah teman yang setia diasaat kita senang maupun susah.

• Cahari olehmu akan abdi
• Yang ada baik sedikit budi
Pengikut, pembantu, budak yang baik untuk diambil adalah abdi yang berbudi.

Pasal Tujuh


Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta.

Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
Itulah landa hampirkan duka.

Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.

Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang.

Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sahajalah umur.

Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.

Apabila menengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.

Apabila perkataan yang lemah-lembut,
Lekaslah segala orang mengikut.

Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar.

Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat honar.


Makna yang terkandung dalam Pasal Ketujuh

“berisi nasihat agar orang tua membangun akhlak dan budi pekerti anak-anaknya sejak kecil dengan sebaik mungkin. Jika tidak, kelak orang tua yang akan repot sendiri”

• Apabila banyak berkata-kata
• Di situlah jalan masuk dusta
Orang yang banyak bicara memperbesar kemungkinan berdusta.

• Apabila banyak berlebih-lebihan suka
• Itu tanda hampirkan duka
Terlalu mengharapkan sesuatu akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam saat sesuatu itu tidak seperti yang diharapkan.

• Apabila kita kurang siasat
• Itulah tanda pekerjaan hendak sesat
Setiap pekerjaan harus ada persiapannya.

• Apabila anak tidak dilatih
• Jika besar bapanya letih
Anak yang tidak di didik semasa kecilnya akan menyebabkan saat anak itu sudah tumbuh dewasa akan membangkan orang tua.

• Apabila banyak mencacat orang
• Itulah tanda dirinya kurang
Jangan suka menghina orang lain.

• Apabila orang yang banyak tidur
• Sia-sia sajalah umur
Pergunakan lah waktu sebaik-baiknya.

• Apabila mendengar akan kabar
• Menerimanya itu hendaklah sabar
Jika menerima kabar duka atau kabar yang kurang menyenangkan maka kita harus sabar dan menerima dengan lapang dada.

• Apabila mendengar akan aduan
• Membicarakannya itu hendaklah cemburuan
Jangan mudah terpengaruh akan omongan orang lain.

• Apabila perkataan yang lemah lembut
• Lekaslah segala orang mengikut
Perkataan yang lemah-lembut akan lebih didengar orang daripada perkataan yang kasar.

• Apabila perkataan yang amat kasar
• Lekaslah orang sekalian gusar
Perkataan orang yang kasar membuat orang yang berada didekatnya resah.

• Apabila pekerjaan yang amat benar
• Tidak boleh orang berbuat onar
Orang yang benar jangan disalahkan (difitnah atau dikambinghitamkan).

Pasal Delapan


Ini Gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
Apalagi kepada lainnya.

Kepada dirinya ia aniaya,
Orang itu jangan engkau percaya.

Lidah yang suka membenarkan dirinya,
Daripada yang lain dapat kesalahannya.

Daripada memuji diri hendaklah sabar,
Biar dan pada orang datangnya khabar.

Orang yang suka menampakkan jasa,
Setengah daripada syirik mengaku kuasa.

Kejahatan diri sembunyikan,
Kebaikan diri diamkan.

Keaiban orang jangan dibuka,
Keaiban diri hendaklah sangka.


Makna yang Terkandung dalam Pasal Ke delapan

“berisi nasihat agar orang tidak percaya pada orang yang culas dan tidak berprasangka buruk terhadap seseorang ”

• Barang siapa khianat akan dirinya
• Apalagi kepada lainnya
Orang yang ingkar dan aniaya terhadap dirinya sendiri tidak dapat dipercaya.

• Kepada dirinya ia aniaya
• Orang itu jangan engkau percaya
Jangan percaya terhadap orang yang suka menganiyaya orang lain.

• Lidah suka membenarkan dirinya
• Daripada yang lain dapat kesalahannya
Jangan suka menyalahkan orang lain, dan mengganggpa bahwa diri kita paling benar.

• Daripada memuji diri hendaklah sabar
• Biar daripada orang datangnya kabar
Pujian tidak usah dibuat sendiri tapi tunggulah datangnya dari orang lain.

• Orang yang suka menampakkan jasa
• Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa
Jangan menginginkan imbalan dari setiap jasa yang telah kita perbuat.

• Kejahatan diri disembunyikan
• Kebajikan diri diamkan
Sifat-sifat jelek dalam diri kita jangan ditampakkan, begitu pula kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat.

• Ke’aiban orang jangan dibuka
• Ke’aiban diri hendaklah sangka
Jangan membuka aib atau keburukan dari orang lain, kesalahan diri sendiri harus disadar.

Pasal Sembilan


Ini Gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaituiah syaitan.

Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa.

Kepada segaia hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja.

Kebanyakan orang yang muda-muda,
Di situlah syaitan tempat bergoda.

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan.

Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru.



Makna Yang Terkandung dalam Pasal Kesembilan

“berisi nasihat tentang moral pergaulan pria wanita dan tentang pendidikan. Hendaknya dalam pergaulan antara pria wanita ada pengendalian diri dan setiap orang selalu rajin beribadah agar kuat imannya ”

• Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
• Bukannya manusia yaitulah syaitan
Manusia yang sudah mengetahui bahwa pekerjaan yang di larang oleh allah swt, maka manusia tersebut tidak dapat di katakan manusia.

• Kejahatan seorang perempuan tua
• Itulah iblis punya penggawa
Kejahatan seorang perempuan tua bagaikan pimpinan setan.

• Kepada segala hamba-hamba raja
• Di situlah syaitan tempatnya manja
Jangan engkau tergoda akan kekayaan pada raja.

• Kebanyakan orang yang muda-muda
• Di situlah syaitan tempat bergoda
Semasa muda jagalah iman kita jangan sampai tergoda oleh rayuan setan.

• Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
• Di situlah syaitan punya jamuan
Jika terdapat seorang lelaki dan seorang perempuan maka disitu pulalah setan berada untuk menggangu iman orang tersebut.

• Adapun orang tua yang hemat
• Syaitan tak suka membuat sahabat
Orang yang semasa mudanya tidak menyia-nyiakan waktu dan selalu melangkah di jalan allah swt, maka setan akan menjauhi orang tersebut.

• Jika orang muda kuat berguru
• Dengan syaitan jadi berseteru
Orang muda yang gemar belajar dijauhi oleh setan.


Pasal Sepuluh


Ini Gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
Supaya Allah tidak murka.

Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat.

Dengan anak janganlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai.

Dengan kawan hendaklah adil,
Supaya tangannya jadi kapil.


Makna yang Terkandung dalam Pasal Ke sepuluh

“berisi nasihat keagamaan dan budi pekerti, yaitu kewajiban anak untuk menghormati orang tuanya”

• Dengan bapak jangan durhaka
• Supaya Allah tidak murka
Jangan durharka terhadap bapa.

• Dengan ibu hendaklah hormat
• Supaya badan dapat selamat
Setiap anak harus hormat dan patuh terhadap ibunya karena surga di telapak kaki ibu dan ibu mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya.

• Dengan anak janganlah lalai
• Supaya boleh naik ke tengah balai
Jagalah anak karena anak merupakan titipan tuhan.

• Dengan kawan hendaklah adil
• Supaya tangannya jadi kapil
Bersikap adilah sesama teman.

Pasal Sebelas


Ini Gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa.

Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat.

Hendak marah,
Dahulukan hujjah.
Hendak dimalui,
Jangan memalui.

Hendak ramai,
Murahkan perangai.


Makna yang terkandung dalam Pasal sebelas

“berisi nasihat kepada para pemimpin agar menghindari tindakan yang tercela, berusaha melaksanakan amanat anak buah dalam tugasnya, serta tidak berkhianat”

• Hendaklah berjasa
• Kepada yang sebangsa
Berjasalah bagi negara dan bangsa, optimalkan setiap kemampuan yang kita punya sehingga kita bisa mengharumkan nama bangsa.

• Hendak jadi kepala
• Buang perangai yang cela
Jadilah pemimpin yang tidak mempunyai sikap tercela.

• Hendaklah memegang amanat
• Buanglah khianat


Pasal Dua Belas


Ini Gurindam pasal yang kedua belas:
Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.

Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.

Hukum ‘adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh ‘inayat.

Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.

Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai.

Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.

Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.


Makna yang trkandung dalam Pasal sebelas

• mufakat dengan menteri
• Seperti kebun berpagarkan duri
Hubungan raja dengan menteri adalah saling menjaga satu sama lain, dan harus bekerjasama.

• Betul hati kepada raja
• Tanda jadi sebarang kerja
Raja yang baik atau raja yang mendapat petunjuk dari Allah adalah raja yang adil terhadap rakyatnya.

• Hukum adil atas rakyat
• Tanda raja beroleh inayat
Hukum harus didasari oleh hak asasi manusia.

• Kasihkan orang yang berilmu
• Tanda rahmat atas dirimu
Orang yang berilmu akan dikaruniai oleh Allah dan dihormati orang lain.

• Hormat akan orang yang pandai
• Tanda mengenal kasa dan cindai
Hormatilah setiap manusia.

• Ingatkan dirinya mati
• Itulah asal berbuat bakti
Bila manusia mengingat kematiannya nanti, ia akan lebih berbakti pada Allah.

• Akhirat itu terlalu nyata
• Kepada hati yang tidak buta
Orang yang tidak buta hatinya tahu kalau akhirat itu benar-benar ada.

Tamatlah Gurindam yang Dua Belas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat.

Sumber referensi


https://belajar.kemdikbud.go.id/PetaBudaya/Repositorys/Gurindam_Dua_Belas/

http://www.rajaalihaji.com/id/index.php

https://belajar.kemdikbud.go.id/PetaBudaya/Repositorys/Gurindam_Dua_Belas/

dll

No comments:

Post a Comment

LATIHAN SOAL CAT CPNS dan P3K TES INTELEGENSI UMUM BAGIAN VERBAL

Assalammualaikum wr.wb Selamat pagi teman-teman. Pada kesempatan kali ini masharist.com akan membagikan  LATIHAN SOAL CAT CPNS dan P3K TE...